Teknologi Pangan Modifikasi Jadi Sorotan Dunia

  • 14 Oktober 2026
  • 14

Teknologi pangan berbasis bioteknologi mulai mengubah cara manusia melihat produksi makanan. Melalui kultur sel, fermentasi mikroba, dan rekayasa biologis, ilmuwan dapat mengembangkan bahan pangan tanpa selalu bergantung pada pola produksi konvensional. Salah satu contoh terbaru adalah keberhasilan Colossal Biosciences menetaskan anak ayam dari sistem telur buatan berbasis struktur cetak 3D.




Sejumlah produk pangan hasil inovasi laboratorium juga mulai masuk pasar global. Singapura menjadi salah satu negara yang mengizinkan penjualan produk ayam kultur sel melalui GOOD Meat di Huber’s Butchery. Sementara itu, produk seperti Bored Cow memanfaatkan protein whey hasil fermentasi presisi untuk menghadirkan alternatif susu tanpa sapi.




Kehadiran pangan masa depan memunculkan pro dan kontra. Di satu sisi, pangan berbasis sel dan fermentasi dinilai berpotensi mengurangi kebutuhan lahan, menekan penggunaan hewan ternak, dan membuat proses produksi lebih terkontrol. Namun di sisi lain, isu kepercayaan konsumen, kebutuhan energi, biaya produksi, serta dampak terhadap peternak tetap menjadi perhatian.




Dari sisi regulasi, pengawasan menjadi bagian penting sebelum produk pangan inovatif beredar. BPOM menegaskan pentingnya pendekatan berbasis sains dalam mengawal inovasi pangan, termasuk keamanan, mutu, gizi, dan tata kelola izin edar. Produk pangan baru perlu melalui evaluasi yang jelas agar manfaat inovasi tetap sejalan dengan perlindungan konsumen.




Perkembangan pangan hasil laboratorium menunjukkan bahwa masa depan makanan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh transparansi riset, regulasi, keamanan pangan, penerimaan masyarakat, dan kesesuaian nilai budaya. Jika pengawasan berjalan kuat, inovasi pangan berbasis bioteknologi dapat menjadi salah satu alternatif dalam menjawab tantangan kebutuhan pangan masa depan. (Ivan)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id