OpenAI kembali memperkenalkan model kecerdasan buatan terbarunya, GPT-5.5, untuk chatbot ChatGPT pada Rabu (23/4/2026)
Melansir dari Kompas.com, GPT-5.5 hadir sebagai penerus GPT-5.4 yang baru dirilis pada Maret lalu. Model terbaru ini diklaim sebagai sistem AI paling cerdas dan intuitif yang pernah dikembangkan perusahaan yang dipimpin Sam Altman tersebut.
Dalam pernyataan resminya, OpenAI menyebut GPT-5.5 sebagai langkah besar menuju era komputasi yang lebih agentic, yakni kondisi ketika AI tidak hanya merespons perintah, tetapi juga mampu merencanakan tindakan, mengambil keputusan, dan menyelesaikan tugas kompleks secara lebih mandiri.
Kemampuan agentic ini menjadi fokus utama GPT-5.5, terutama untuk kebutuhan coding, penggunaan komputer, serta riset ilmiah.
Berbeda dengan model sebelumnya yang kerap membutuhkan instruksi rinci langkah demi langkah, GPT-5.5 dirancang agar dapat menangani pekerjaan rumit dan tidak terstruktur secara otomatis.
Secara sederhana, model ini dikembangkan untuk memahami kebutuhan pengguna lebih cepat, lalu menyelesaikan sebagian besar tugas secara mandiri. Misalnya, GPT-5.5 dapat melakukan riset daring, memperbaiki kode kompleks, hingga berpindah antar dokumen dan spreadsheet hanya berdasarkan satu instruksi utama dari pengguna.
Dibanding pendahulunya, GPT-5.5 juga diklaim lebih efisien. Model ini mampu menyelesaikan tugas dengan penggunaan token yang lebih sedikit, tetapi tetap menghasilkan output yang lebih baik. Dari sisi performa, OpenAI menyebut kecepatannya tetap setara dengan GPT-5.4 meski tingkat kecerdasannya meningkat.
OpenAI turut menghadirkan beberapa varian dalam keluarga GPT-5.5, yakni GPT-5.5 standar, GPT-5.5 Thinking, dan GPT-5.5 Pro.
Versi standar diposisikan sebagai model serbaguna untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pekerjaan harian hingga tugas profesional. Sementara itu, GPT-5.5 Thinking dirancang khusus untuk menangani pekerjaan yang lebih kompleks.
Model Thinking diklaim mampu menghasilkan jawaban yang lebih cerdas dan ringkas, sehingga membantu pengguna menyelesaikan tugas berat seperti coding, riset, analisis data, hingga pengolahan dokumen dengan lebih efisien, terutama saat digunakan bersama plugin.
Adapun GPT-5.5 Pro ditujukan untuk pekerjaan dengan tingkat kesulitan lebih tinggi. Dibandingkan GPT-5.4 Pro, hasil keluaran GPT-5.5 Pro disebut lebih lengkap, terstruktur, akurat, dan relevan, dengan performa kuat di bidang bisnis, hukum, pendidikan, hingga data science.
Dari sisi kemampuan teknis, OpenAI menyebut GPT-5.5 unggul dalam berbagai bidang, mulai dari coding, pekerjaan berbasis pengetahuan, hingga riset ilmiah tahap awal.
Model ini juga diklaim mampu bekerja lintas aplikasi dan tools, serta tetap melanjutkan tugas meski menghadapi kondisi yang tidak pasti.
Dalam pengujian internal, GPT-5.5 menunjukkan peningkatan performa di sejumlah benchmark atau tes standar kemampuan AI. Salah satu yang menonjol ialah Terminal-Bench 2.0, pengujian yang mengukur kemampuan AI dalam menyelesaikan tugas di lingkungan terminal komputer, seperti menjalankan perintah, debugging, dan mengelola alur kerja kompleks.
Untuk ketersediaannya, GPT-5.5 mulai diluncurkan kepada pengguna ChatGPT paket Plus, Pro, Business, dan Enterprise. Sementara GPT-5.5 Pro hanya tersedia bagi pengguna Pro dan paket yang lebih tinggi.
OpenAI mematok harga API GPT-5.5 sekitar 5 dollar AS atau sekitar Rp84 ribu per 1 juta token input dan 30 dollar AS atau sekitar Rp507 ribu per 1 juta token output.
Adapun GPT-5.5 Pro dibanderol lebih tinggi, yakni 30 dollar AS atau sekitar Rp507 ribu per 1 juta token input dan 180 dollar AS atau sekitar Rp3 juta per 1 juta token output, seiring kemampuan dan akurasi yang lebih tinggi.
Sebagai informasi, token merupakan satuan kecil teks yang diproses AI, umumnya berupa potongan kata atau beberapa karakter. Token input adalah teks yang dimasukkan pengguna ke sistem AI, sedangkan token output merupakan teks yang dihasilkan AI sebagai respons.
Reporter