Dari Konten ke Belanja, Fesyen Lokal Makin Berkembang di Era Digital

  • 02 Oktober 2026
  • 26

Satu video OOTD kini bisa membawa konsumen dari sekadar melihat hingga tertarik membeli. Pola tersebut turut mendorong perkembangan fesyen lokal di tengah pesatnya perdagangan berbasis konten.


Melansir dari Antara News, industri fesyen lokal terus menunjukkan pertumbuhan melalui discovery commerce, yakni model perdagangan yang mempertemukan pelaku usaha, kreator, dan konsumen dalam ekosistem digital. Produk dapat diperkenalkan melalui konten sebelum akhirnya dibeli oleh konsumen.


Data perusahaan yang dikutip dari Antara News menunjukkan nilai transaksi fesyen pada Semester I 2026 meningkat 70 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Jumlah kreator fesyen juga meningkat 74 persen. Sementara itu, nilai transaksi di TikTok Shop yang dihasilkan oleh kreator fesyen tercatat meningkat 95 persen dibandingkan Semester I 2025.


Konten seperti Get Ready With Me (GRWM), Outfit of the Day (OOTD), hingga video “3 Ways to Style” turut mengubah cara konsumen menemukan produk. Format tersebut tidak hanya menghadirkan inspirasi berpakaian, tetapi juga memperkenalkan berbagai pilihan fesyen sesuai kebutuhan dan gaya konsumen.


Pertumbuhan industri juga terlihat dari sektor fesyen dan kriya secara lebih luas. Kementerian Perindustrian mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) sektor fesyen dan kriya mencapai Rp120,13 triliun pada triwulan I 2026, meningkat 7,89 persen dibandingkan triwulan I 2025. Sektor ini juga menyerap 3,69 juta tenaga kerja dari 1,75 juta pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM).


Bagi pelaku usaha fesyen lokal, kondisi tersebut membuka peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Video pendek, sesi live shopping, hingga kolaborasi dengan kreator dapat digunakan untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen. Strategi promosi pun berkembang dari sekadar memasang iklan menjadi menghadirkan produk dalam konten yang relevan.


Salah satu contohnya terlihat pada jenama fesyen lokal KUKAI. Hampir 50 persen nilai transaksi KUKAI di platform tersebut berasal dari sesi live. Interaksi langsung dalam siaran tersebut menjadi bagian dari proses pemasaran sekaligus transaksi produk.


Perubahan pola konsumsi ini membuat perkembangan fesyen lokal tidak lagi hanya berlangsung di toko fisik maupun pusat perbelanjaan. Media sosial menjadi ruang baru bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan karya, berinteraksi dengan konsumen, dan menjangkau pasar yang lebih luas.


Bagi industri fesyen lokal, perubahan tersebut menunjukkan bahwa sebuah konten dapat memiliki peran lebih dari sekadar hiburan. Dari video singkat, konsumen dapat menemukan produk, mengenal jenama, hingga melanjutkan proses pembelian dalam ekosistem digital yang sama. (Aura)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id