11 Mahasiswa Untag Surabaya Hadirkan Harapan bagi Warga Kampung Lehot NTT

  • 15 Oktober 2026
  • 23

Perjalanan menuju sekolah, bantuan kebutuhan sehari-hari, hingga pemasangan pipa air menjadi bagian dari upaya 11 mahasiswa Untag Surabaya mendampingi warga Kampung Lehot, Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam menghadapi situasi pascabencana. Di tengah keterbatasan yang masih dirasakan masyarakat, kehadiran mahasiswa tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga menghadirkan kebersamaan.


Selama 15 hari, dari 23 September hingga 7 Oktober 2026, sebelas mahasiswa tersebut menjalankan program pengabdian di Kampung Lehot, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai. Kegiatan mencakup pemenuhan kebutuhan dasar warga, perbaikan akses air bersih, serta pendampingan pendidikan bagi siswa SDN Subu di Desa Gelong, Kecamatan Lelak.


Kegiatan ini diusulkan oleh Untag Surabaya di bawah naungan dan pemantauan LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) serta BKA (Biro Kemahasiswaan dan Alumni). Pelaksanaannya melibatkan gabungan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), yaitu Taekwondo, Tari, Paduan Suara Untag Surabaya (Paramatags), Musik, Pramuka, PATAGA (Pecinta Alam), dan Kesehatan, serta mendapat pendampingan dari alumni yang memiliki relasi dengan UKM PATAGA.


Sebelas mahasiswa tersebut berasal dari berbagai program studi di Untag Surabaya, yakni Maxy Patrick Nederupun dari Teknik Informatika, Dimas Pramudito dari Teknik Mesin, Putri Ayu Dwi Winarni Korua dari Arsitektur, Farida Sasi Febrianty dari Ekonomi Pembangunan, Faiz Ardian Hilmy dan Muhammad Adam Alimulloh dari Ilmu Hukum, Sonia Aprila NST, Bakhtiar Mohammad Hakim, dan Frederic Satria R.A dari Administrasi Bisnis, serta Kevin Eemagenoe Aybra Putra dan Raihan Avib Firmansyah dari Ilmu Komunikasi.


Sebelum menyusun program, mahasiswa melakukan asesmen selama kurang lebih satu hari untuk mengetahui kebutuhan warga secara langsung. Hasil asesmen tersebut menjadi dasar dalam menentukan kegiatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.


“Dasar kami melakukan semua program ini adalah kebutuhan di Lehot,” jelas Putri Ayu, salah satu peserta pengabdian (11/10)


Menempuh Medan Terjal demi Mendampingi Anak-anak


Salah satu fokus pengabdian adalah pendampingan pendidikan bagi siswa SDN Subu. Sekolah yang berada di Kampung Subu, wilayah di bawah Kampung Lehot, tersebut menjadi tempat anak-anak Kampung Lehot menempuh pendidikan. Untuk sampai ke sana, mahasiswa harus berjalan kaki sekitar satu jam melewati medan terjal sambil membawa perlengkapan mengajar.


Persiapan bahkan dimulai sejak pukul 06.00 WITA agar mereka dapat tiba di sekolah sebelum pembelajaran dimulai pukul 08.00 WITA. Setelah kegiatan selesai, mahasiswa kembali menempuh jalur yang sama sambil membawa perlengkapan mengajar.

 

“Ketika kami menjadwalkan sekolah di jam 8, kami harus bangun jam 6 untuk bersiap, kemudian sarapan dan berangkat selambat-lambatnya jam 7,” ungkap Putri.


Di sekolah tersebut, mahasiswa mengadakan dua kegiatan trauma healing untuk membantu siswa menghadapi tekanan emosional pascabencana. Kegiatan pertama diisi dengan permainan bersama, permainan kelompok berdasarkan jenjang kelas, serta menonton film. Melalui aktivitas sederhana itu, siswa diajak menemukan sisi positif dari situasi yang mereka hadapi dan menikmati kebersamaan.


Kegiatan kedua berfokus pada edukasi regulasi emosi. Siswa diajak mengenali dan mengelola perasaan agar dapat merespons situasi sulit dengan lebih baik. Materi tersebut juga membantu mereka memahami pentingnya menghindari tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain ketika menghadapi kondisi darurat.


Keterbatasan Listrik dan Upaya Pemenuhan Air Bersih


Selain mendampingi anak-anak, mahasiswa turut membantu memenuhi kebutuhan dasar warga Kampung Lehot. Bantuan yang diberikan meliputi obat-obatan, peralatan memasak untuk posko, serta kebutuhan logistik lainnya.


Bantuan tersebut menjadi penting karena perjalanan menuju kota membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam melalui medan yang sulit, sehingga akses warga untuk memperoleh kebutuhan sehari-hari masih terbatas.


Keterbatasan fasilitas dasar juga terlihat dari belum tersedianya jaringan listrik di Kampung Lehot selama bertahun-tahun. Sebagian warga bahkan belum pernah menikmati penerangan listrik di rumahnya. Ada pula warga yang meninggal dunia tanpa pernah merasakan lampu di rumahnya menyala. Kondisi tersebut menggambarkan keterbatasan akses terhadap fasilitas yang umumnya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, seperti penerangan dan pengisian daya telepon genggam.


Selama ini, warga mengandalkan genset yang hanya beroperasi sekitar pukul 18.00 hingga 22.00 WITA. Pengoperasiannya membutuhkan biaya bahan bakar yang tidak sedikit. Keterbatasan tersebut turut memengaruhi aktivitas warga, termasuk waktu memasak dan makan malam bersama di posko. Jika tidak bekerja seperti biasanya, warga perlu memajukan aktivitas tersebut ke sore hari. Penggunaan telepon genggam juga dibatasi untuk menghemat daya baterai sebagai antisipasi apabila terjadi keadaan darurat.


“Selama di sana, kami juga membantu membelikan solar untuk kebutuhan genset. Keterbatasan listrik ini menjadi salah satu tantangan yang kami rasakan selama menjalankan pengabdian di Kampung Lehot,” ungkap Putri.


Mahasiswa juga berkontribusi dalam penyediaan akses air bersih dengan memasang sekitar 250 meter pipa air. Upaya ini melengkapi bantuan sebelumnya dari mahasiswa Universitas Mataram (Unram), yang telah menyediakan toren dan selang air, tetapi belum mencukupi kebutuhan instalasi di lokasi tersebut.


Di samping itu, mahasiswa membantu membersihkan bangunan yang akan dibangun kembali. Mereka juga menyediakan peralatan memasak untuk digunakan bersama di posko, yang hingga kegiatan pengabdian berlangsung masih dimanfaatkan warga sebagai tempat memasak bersama.


Instalasi pipa air tersebut diharapkan dapat terus dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan air bersih setelah mahasiswa kembali.


Mengalami Gempa Bersama Warga


Selama menjalankan pengabdian, mahasiswa turut merasakan beberapa kali gempa. Salah satunya terjadi ketika mereka baru tiba di Ruteng, dengan kekuatan yang disebut mencapai 4,2 skala Richter (SR). Gempa juga dirasakan saat mereka berada di Kampung Lehot.


Situasi tersebut sempat membuat mahasiswa terkejut dan meningkatkan kewaspadaan. Pengalaman itu memberi mereka gambaran langsung tentang kondisi yang dihadapi warga, yang tetap menjalani aktivitas sehari-hari di tengah situasi pascabencana dan potensi gempa susulan.


Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Kampung Lehot menyambut kehadiran mahasiswa dengan hangat. Kedekatan terjalin dengan warga dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Hubungan yang terbentuk selama kegiatan bahkan tetap terjaga setelah mahasiswa kembali dari lokasi pengabdian.


Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak selalu diukur dari besarnya bantuan yang diberikan. Kehadiran dan kebersamaan juga menjadi bagian penting dalam mendampingi masyarakat yang sedang berupaya bangkit.


“Saya tidak berani berkata kami membawa perubahan besar karena kami hanya membawa sepersen materi yang nantinya akan habis atau usang seiring dengan waktu, tapi keberadaan mahasiswa Untag di Lehot akan diingat dan bertahan untuk waktu yang lama,” tutur Putri.


Pengalaman di Kampung Lehot menjadi pembelajaran bagi mahasiswa tentang pentingnya memahami kebutuhan masyarakat dan terlibat dalam proses pemulihan pascabencana. Bagi warga, instalasi pipa air dan bantuan yang diberikan diharapkan dapat terus bermanfaat setelah kegiatan pengabdian berakhir. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id