Penanganan Tak Boleh Terlambat Saat Keracunan Mengancam Kesehatan Anak

  • 25 September 2026
  • 26

Ketika anak mengalami perubahan kondisi kesehatan setelah mengonsumsi makanan, penanganan cepat harus menjadi perhatian utama. Dugaan keracunan makanan perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan medis untuk memastikan penyebabnya secara tepat.


Pemberitaan mengenai dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami sejumlah anak menjadi perhatian dari sisi kesehatan anak. Pada prinsipnya, setiap kasus yang dicurigai harus diklarifikasi dengan pemeriksaan medis dan pemeriksaan penunjang diagnostik untuk menetapkan penyebabnya.


Tidak setiap gejala yang muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu secara otomatis dapat disimpulkan sebagai akibat dari makanan tersebut. Dalam kasus yang melibatkan makanan secara massal, perlu dilihat berapa jumlah orang yang mengonsumsi makanan yang sama dan mengalami gejala serupa.


Keracunan Makanan dan Risiko pada Anak


Keracunan makanan terjadi akibat masuknya kontaminan ke dalam tubuh, seperti bakteri, virus, parasit, atau zat tertentu melalui makanan yang baru dikonsumsi. Faktor waktu menjadi penting karena keracunan makanan merupakan kondisi akut.


Secara spontan, tubuh mempunyai mekanisme fisiologis untuk mengeluarkan sebagian besar bahan atau zat yang tidak sesuai melalui beberapa mekanisme, misalnya muntah dan mencret. Namun, ada beberapa zat yang sangat cepat bereaksi dengan tubuh, misalnya sianida yang dalam waktu singkat dapat menyebabkan kefatalan.


Pada anak, kondisi muntah dan mencret memerlukan perhatian lebih karena komposisi cairan tubuh anak berbeda dengan orang dewasa. Kondisi tersebut sangat berisiko menyebabkan dehidrasi berat.


Dehidrasi yang tidak segera ditangani akan menyebabkan perfusi sistemik mengalami gangguan keseimbangan dan pada akhirnya menurunkan aliran darah ke otak serta menyebabkan kematian sel-sel otak.


Di samping itu, dehidrasi juga memicu gangguan keseimbangan elektrolit yang dapat menyebabkan edema atau pembengkakan pada otak, memicu kejang, serta menurunkan kesadaran dan seluruh fungsi kognitif, bicara, motorik, serta fungsi-fungsi lain yang dikendalikan oleh otak.


Memastikan Penyebab Berdasarkan Bukti


Untuk memastikan penyebab gejala yang muncul, diperlukan berbagai bukti, mulai dari pola kejadian pada orang yang mengonsumsi makanan yang sama, gejala klinis dan waktu kemunculannya, hingga pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang.


Kondisi kesehatan anak sebelum mengonsumsi makanan yang dicurigai juga harus dideskripsikan dengan jelas agar kesimpulan yang diambil tidak hanya berdasarkan urutan waktu antara makan dan munculnya gejala.


Pemeriksaan juga dilakukan terhadap sampel makanan yang dicurigai dan dievaluasi secara menyeluruh, meliputi bukti fisik seperti warna, bau, ada tidaknya lendir atau jamur, serta pemeriksaan bakteriologis dan toksikologi. Dari seluruh data tersebut, baru dapat ditarik kesimpulan yang akurat dan berbasis bukti, bukan hanya sekadar dugaan.


Pengawasan Pelaksanaan MBG


Pada saat ini memang ada program MBG yang pada dasarnya merupakan program yang mempunyai makna baik karena pemerintah berusaha menjamin makanan anak di sekolah sesuai dengan standar kebutuhan gizi. Namun, dalam pelaksanaannya tetap memerlukan faktor kontrol yang ketat, mulai dari pemilihan kualitas bahan pangan, penyimpanan, teknik pengelolaan atau pemasakan, pengemasan, hingga distribusi kepada anak sekolah.


Semua harus tercatat secara jelas dan jujur, mulai dari waktu memasak, suhu makanan yang disyaratkan, bagaimana pihak distributor menjaga suhu makanan tetap sesuai, hingga waktu makanan dikonsumsi anak.


Pengambilan sampel secara acak perlu dilakukan secara berkala untuk memonitor kualitas makanan yang diberikan. Dengan demikian, jika ada masalah, semuanya dapat ditelusuri dengan jelas dan mudah.


Kenali Tanda Bahaya pada Anak


Hal lain yang juga sangat penting adalah pengenalan red flags atau tanda bahaya. Jika anak setelah mengonsumsi makanan tersebut mengalami muntah hebat, mencret, nyeri kepala, atau nyeri perut, pertolongan medis harus segera dilaksanakan di pusat kesehatan terdekat.


Jangan ditunda, apalagi waktu habis hanya dengan memperdebatkan penyebab sementara kondisi anak semakin buruk.


Perlindungan kesehatan anak harus menjadi prioritas dalam setiap penyediaan makanan massal. Ketika terjadi perubahan kondisi kesehatan setelah anak mengonsumsi makanan, tindakan pertama adalah memastikan anak mendapatkan pertolongan dan kondisinya stabil.


Setelah itu, penyebab dapat ditelusuri berdasarkan bukti yang jelas agar penanganan dan evaluasi dapat dilakukan secara tepat.


*) Dr. dr. Erny, Sp.A., Subsp. Neurologi Anak (K) – Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id