Seni pertunjukan menjadi medium bagi anggota baru Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Kusuma Untag Surabaya untuk memperkenalkan diri sekaligus menyalurkan keresahan sosial melalui karya.
Melalui Pentas Apresiasi 2026 bertema “Di Balik Topeng yang Berwarna”, UKM Teater Kusuma menghadirkan beragam pertunjukan yang mengajak penonton merefleksikan realitas kehidupan. Kegiatan tersebut digelar pada 9 Mei 2026 di Selasar Proklamasi, Grha Wiyata Untag Surabaya.
Acara ini dihadiri sekitar 50 orang yang terdiri dari alumni UKM Teater Kusuma, perwakilan UKM lain, serta masyarakat umum. Pentas Apresiasi menjadi ajang bagi anggota baru Teater Kusuma yang belum memiliki nama dan belum dikenal untuk menunjukkan kemampuan mereka di bidang seni.
Sebanyak enam penampilan ditampilkan, mulai dari musikalisasi puisi, drama, tari, hingga pertunjukan kolaboratif. Ketua Umum Teater Kusuma, Letchumi Yanuvika Surri, dalam sambutannya menyampaikan bahwa acara tersebut menjadi ruang apresiasi bagi anggota yang ingin menunjukkan bakat dan kemampuan mereka kepada publik.
“Maknanya simple, di dalam hidup kita masih menghadapi kegagalan dan keberhasilan. Di sini saya adalah seseorang yang mencintai sebegitunya dengan Tuhan, tapi takdir berkata lain bahwa kegagalan tersebut yang akan mengajari saya caranya untuk bangkit,” jelasnya (9/5)
Rangkaian acara dibuka dengan penampilan “Seribu Wajah 1 Jiwa” yang dibawakan Dinar Alexa dengan penuh semangat. Selanjutnya, Letchumi turut membawakan penampilan berjudul “Mawar” yang mengangkat perjuangan menghadapi kegagalan dan keberhasilan dalam hidup.
Penampilan lain yang menarik perhatian adalah “Gema yang Padam” karya Juanda Rmdani yang mengangkat isu kesehatan mental dan maraknya kasus bunuh diri akibat berbagai persoalan kehidupan. Selain itu, pertunjukan “Rama dan Sinta” menghadirkan perpaduan tari, drama, dan lagu Rewrite the Stars yang memberikan nuansa berbeda dalam pementasan.
Dua pembacaan puisi juga turut ditampilkan, yakni “Mereka Tak Mengerti” oleh Dini Revalina dan “Warna yang Menipu Senyap” oleh Devita Putri. Kedua karya tersebut menyampaikan pesan bahwa tidak semua orang dapat dinilai dari apa yang tampak di permukaan.
“Tentang tidak semua orang bisa dilihat dari cover-nya. Kadang yang terlihat tenang padahal aslinya berbanding terbalik,” ungkap Devita mengenai makna puisinya.
Sementara itu, drama penutup “Laki-Laki Perempuan” yang dibawakan Juana Navy mengangkat isu objektifikasi perempuan dan keresahan terhadap berbagai kasus yang marak terjadi di masyarakat. Melalui pertunjukan tersebut, ia ingin menyampaikan pesan kesadaran sosial kepada penonton.
“Perempuan tanpa menari dan bergeol-geol saja sudah dijadikan bahan fantasi oleh pria. Banyak sekali kasus yang muncul akhir-akhir ini dan membuat saya ingin menyadarkan orang-orang melalui penampilan singkat ini,” ujarnya.
Suasana acara semakin terasa emosional ketika beberapa penampilan berhasil membuat penonton terdiam dan larut dalam pesan yang disampaikan. Salah satu penonton, Alifia Nur Syifa, mengaku kagum dengan keseluruhan penampilan yang dibawakan anggota Teater Kusuma.
“Wah acaranya keren banget sih, tadi ada beberapa penampilan yang bikin aku merinding, khususnya penampilan terakhir yang menggambarkan realita saat ini. Harapannya pesan-pesan dari setiap penampilan tadi dapat diresapi oleh penonton,” ungkap Alifia.
Pentas Apresiasi 2026 tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang bagi anggota baru Teater Kusuma untuk memperkenalkan diri, menunjukkan potensi, dan menyampaikan pesan sosial melalui karya seni. (Dini)