Jika Nyawa-Nya Saja Diberikan, Mengapa Masih Ragu pada Rencana Tuhan?

  • 15 Mei 2026
  • VaniaS
  • 10

Peringatan Kenaikan Yesus sering kali dipahami sebatas hari besar keagamaan. Padahal, makna kenaikan-Nya tidak dapat dilepaskan dari perjalanan hidup Yesus sejak awal kelahiran. Jika mundur ke peristiwa Natal, Yesus hadir ke dunia dengan tujuan yang jelas, yakni menjalani jalan pengorbanan untuk menebus dosa manusia melalui kayu salib.


Setelah kebangkitan, Yesus naik ke sorga. Namun, kenaikan-Nya bukanlah akhir. Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia akan datang kembali dari surga untuk menjadi Hakim Agung. Karena itu, peringatan Kenaikan Yesus tetap relevan hingga hari ini. Bukan soal kapan Ia datang, sebab tidak seorang pun mengetahuinya, tetapi sudah siapkah kita menyambut kedatangan-Nya?


Kesiapan ini kembali pada iman masing-masing dan bagaimana seseorang membangun hubungan dengan Kristus. Sebelum kenaikan-Nya, ada simbol penting berupa tabir yang terbelah, pembatas ruang suci dan ruang maha suci. Peristiwa ini menandakan bahwa orang percaya kini dapat datang kepada Kristus tanpa lagi membutuhkan perantara.


Kenaikan sebagai Simbol Harapan


Kenaikan Yesus bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga simbol pengharapan. Peringatan ini mengingatkan bahwa hidup manusia tidak pernah lepas dari proses. Tidak ada kehidupan yang selalu berjalan mulus, bahkan orang-orang yang hidup dekat dengan Yesus pun mengalami pergumulan.


Bahkan murid-murid yang hidup dekat dengan Yesus pun mengalami berbagai tantangan, penolakan, dan pengorbanan dalam perjalanan iman mereka. Yesus sendiri menunjukkan kasih yang begitu besar kepada manusia. Logikanya sederhana, jika nyawa-Nya saja diberikan, maka ada keyakinan bahwa masa depan yang baik tentu tidak akan diabaikan-Nya.


Karena itu, ketika seseorang berada dalam lembah kehidupan yang kelam, selalu ada pengharapan bahwa Yesus hadir. Tidak semua ujian dihindarkan, tetapi setiap ujian yang diizinkan terjadi dipercaya mendatangkan kebaikan menurut cara pandang Kristus.


Sering kali manusia hanya melihat persoalan dari sudut pandangnya sendiri. Misalnya ketika seseorang merasa gajinya kurang, fokusnya berhenti pada keterbatasan materi. Padahal, Kristus memandang lebih dalam, yaitu bagaimana jiwa sedang dibentuk melalui proses tersebut.


Pelayanan Hadir dalam Keseharian


Masih banyak yang menganggap pelayanan hanya dapat dilakukan di gereja. Padahal, pelayanan berarti membagi hidup kepada sekitar agar orang lain ikut bertumbuh.


Tidak sedikit orang merasa dirinya tidak lagi melayani karena sibuk bekerja. Padahal, pelayanan tidak berhenti pada aktivitas formal. Sebagai dosen, misalnya, pelayanan bukan hanya memastikan mahasiswa memahami teori, tetapi juga bertumbuh dalam karakter, integritas, dan kejujuran. Artinya, pelayanan dapat hadir melalui profesi dan keseharian.


Dari sudut pandang psikologi, harapan juga memiliki peran penting saat seseorang menghadapi tekanan hidup. Banyak yang bertanya, mana yang perlu didahulukan: mental atau fisik? Dalam banyak kondisi, seseorang dengan mental yang baik akan lebih mampu mengelola fisiknya karena pikirannya sehat.


Alkitab sendiri mengajarkan tiga fondasi penting, yakni iman, harapan, dan kasih. Dalam situasi sulit, pengharapan menjadi kekuatan untuk tetap berjalan.


Kasih dan Kepedulian Tidak Harus Besar


Kasih sering kali disalahartikan sebagai selalu mengiyakan semua keinginan. Padahal, kasih bukan berarti semua yang diminta harus dipenuhi. Seorang bapa pun tidak selalu mengabulkan semua keinginan anaknya.


Kasih justru menuntun seseorang kepada kebenaran tanpa menolak pribadinya. Tetap memeluk seseorang, bahkan ketika ia sedang berada di jalan yang salah, serta menemani masa kelamnya, sebagaimana Yesus menemani manusia dalam kesulitannya.


Dalam kehidupan sehari-hari, kasih tidak harus selalu diwujudkan dalam sesuatu yang besar. Kasih bukan hanya membaik-baikkan atau selalu mengiyakan, tetapi juga menjaga seseorang tetap berada di jalan yang benar. Hal sederhana seperti mengatakan, “I love you, Mom,” pun sudah menjadi bentuk kasih.


Begitu pula dengan kepedulian terhadap sesama. Dalam Alkitab, banyak mukjizat justru dimulai dari apa yang sudah dimiliki seseorang, bukan dari rencana besar yang muluk-muluk. Barang yang tidak terpakai, pakaian yang masih layak, atau tindakan kecil lainnya dapat menjadi awal menghadirkan kepedulian.


Hal-hal kecil yang dilakukan terus-menerus akan membentuk kebiasaan baik dan membuat seseorang lebih manusiawi.


Menjadi Pribadi yang Damai dan Bijak


Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, manusia juga dituntut untuk semakin bijak. Roh Kudus diyakini terus mengingatkan, tetapi manusia tetap perlu membatasi dirinya, merenungkan firman, dan memperkuat fondasi iman.


Selain itu, penting untuk memahami bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Kita tidak harus menyenangkan semua orang, tetapi tetap dipanggil untuk mengasihi semua orang.


Pada akhirnya, Kenaikan Yesus mengingatkan tentang harapan, kasih, dan tanggung jawab menghadirkan kebaikan dalam hidup. Tidak perlu sesuatu yang besar atau muluk untuk melakukannya. Hal-hal kecil yang dilakukan dengan konsisten sudah menjadi bentuk pelayanan dan kasih.


Selamat memperingati Hari Kenaikan Tuhan Yesus. Kenaikan-Nya identik dengan janji bahwa Ia akan datang kembali sebagai hakim. Karena itu, apa pun peran kita hari ini, yang terpenting adalah mempersiapkan diri, membangun hubungan dengan Kristus, dan siap menyambut kedatangan-Nya yang kedua.


*) Karolin Rista, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Dosen Pengampu Mata Kuliah Agama Kristen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Dosen Psikologi Fakultas Psikologi Untag Surabaya


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

Vania

Reporter

\