Batik tak lagi identik dengan acara formal. Di tangan Gen Z, warisan budaya Indonesia ini mulai hadir dalam berbagai aktivitas, mulai dari pergi ke kampus hingga hangout bersama teman, dengan gaya yang lebih dekat dengan keseharian anak muda.
Tanggal 2 Oktober 2026 diperingati sebagai Hari Batik Nasional, menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan terhadap batik sebagai warisan budaya Indonesia. Di tengah perubahan tren fesyen dan perkembangan media sosial, cara generasi muda mengenakan serta memaknai batik menjadi hal menarik untuk diperhatikan.
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Nara Garini Ayuningrum, S.Tr.I.Kom., M.A., menilai batik masih sangat relevan bagi Gen Z, khususnya mahasiswa. Menurut dosen yang akrab disapa Nara ini, tren wastra dan kebiasaan membagikan Outfit of the Day (OOTD) turut membuka ruang bagi batik untuk tampil dengan gaya yang lebih dekat dengan keseharian anak muda.
“Batik masih relevan banget karena sekarang ada tren wastra itu kan, mahasiswa banyak yang bikin outfit of the day,” ujarnya (2/10/26)
Antusiasme mahasiswa Untag Surabaya terhadap batik salah satunya terlihat melalui kegiatan FISIP Batik Day yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Nara mengaku terkejut melihat kekompakan mahasiswa yang mengenakan batik dengan beragam gaya.
“Saya awalnya juga kaget kok ramai, mereka kompak banget pakai batik, lucu-lucu. Ternyata mereka masih amat sangat antusias dan tertarik pakai batik,” ungkapnya.
Ketertarikan generasi muda terhadap batik tidak terlepas dari pengaruh media sosial. Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi digital atau digital native, Gen Z banyak memperoleh referensi gaya, informasi, hingga perspektif budaya melalui berbagai platform, termasuk TikTok dan Instagram.
Dari perspektif komunikasi dan budaya, Nara menilai kedua platform tersebut memiliki peran sangat besar dalam membentuk cara Gen Z mengenal dan memandang batik.
“Mereka digital native. Saya yakin banget cara pandang dan cara pikir mahasiswa ini lebih banyak dibentuk dari medsos daripada lingkungan real life-nya. Tapi nggak masalah juga, karena mereka jadi punya cara pandang yang luas dan mungkin lebih luas dari generasi-generasi sebelumnya,” jelasnya.
Pengaruh tren digital juga terlihat dari cara generasi muda memadukan batik dengan gaya berpakaian kekinian. Menurut Nara, penyesuaian gaya tersebut tidak serta-merta menghilangkan nilai budaya yang melekat pada batik. Sebaliknya, semakin banyak anak muda mengenakannya, semakin terbuka pula kesempatan untuk memperkenalkan warisan budaya tersebut kepada masyarakat.
“Nilai budaya yang ada di batik itu nggak menjadi tereduksi juga dengan style anak-anak sekarang. Saya melihatnya malah semakin banyak mahasiswa yang pakai batik, semakin jadi ‘promosi gratis’,” tuturnya.
Penggunaan batik dalam keseharian juga dapat memperluas pemahaman bahwa kain tradisional tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi acara tertentu. Batik dapat menjadi pilihan busana untuk berbagai aktivitas tanpa harus menunggu momen formal.
“Jadi semacam memperlihatkan bahwa batik bisa digunakan buat keseharian, tidak melulu buat kondangan atau jadi seragam kantoran aja,” tambah Nara.
Meski demikian, memperkenalkan batik kepada generasi muda tidak cukup hanya dengan mendorong penggunaannya sebagai tren fesyen. Pemahaman mengenai makna dan nilai budaya di balik batik juga perlu disampaikan melalui pendekatan komunikasi yang sesuai dengan karakter mereka.
Memiliki minat pada bidang gender dan media, khususnya gaya hidup dan budaya, Nara melihat konten visual dan digital sebagai salah satu pendekatan yang dapat dimanfaatkan untuk menarik perhatian Gen Z. Pemerintah, misalnya, dapat mengembangkan tayangan kreatif yang mengangkat batik dengan konsep lebih menarik dan menghibur.
“Kalau ini kayaknya balik lagi ke sifat Gen Z ya. Mereka kan suka sama sesuatu yang berbau visual dan digital. Mungkin bisa jadi program kerja baru pemerintah buat bikin animasi, film, atau tayangan yang lucu-lucu dan seru terkait batik, biar Gen Z pada tertarik nontonnya,” jelasnya.
Bagi Nara, perubahan cara generasi muda mengenakan batik merupakan perkembangan yang cukup berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Pada masa generasinya, batik kerap dianggap identik dengan pakaian orang tua karena modelnya yang cenderung monoton.
“Menurut saya Gen Z ini udah keren banget. Kalau mengingat dulu bagaimana generasi saya menggunakan atau memaknai batik, itu jauh banget berbeda. Zaman angkatan saya dulu, pakai batik itu udah kayak orang tua karena modelnya gitu-gitu aja, beda banget sama sekarang,” ungkapnya.
Kebiasaan Gen Z mengenakan batik untuk berbagai aktivitas, seperti pergi ke kampus, hangout ke mal, hingga jalan-jalan, dinilai sudah menjadi kemajuan dalam memperkenalkan batik sebagai identitas Indonesia.
“Gen Z yang bisa pakai batik untuk ke kampus, hangout ke mal, jalan-jalan, itu sudah kemajuan buat memperkenalkan batik sebagai identitas Indonesia,” tutupnya
Kebiasaan mengenakan batik dalam berbagai aktivitas sehari-hari menjadi salah satu cara Gen Z menjaga batik tetap relevan sekaligus memperkenalkannya sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.
Reporter