DECO 2026 HIMEP Untag Surabaya Jadi Ajang Adu Gagasan Ekonomi Kreatif

  • 25 Mei 2026
  • 18

Semangat inovasi generasi muda menggema di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untag Surabaya melalui Development Economic Competition (DECO) 2026 yang diinisiasi Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan (HIMEP). Kompetisi tingkat regional tersebut mengusung tema “Peran Gen Z dalam Mendorong Inovasi Sub Sektor Ekonomi Kreatif”.


Kompetisi yang berlangsung pada Kamis (21/5/26) itu diikuti 13 tim dari berbagai sekolah menengah atas di Jawa Timur. Rangkaian kegiatan dibagi menjadi dua sesi utama, yakni babak eliminasi awal dan Grand Final. Pada tahap pertama, seluruh peserta mempresentasikan karya infografis di hadapan dewan juri. Dari proses seleksi tersebut, terpilih empat tim terbaik yang berhak melaju ke babak final untuk memperebutkan gelar juara.


Acara puncak DECO 2026 dibuka dengan laporan Ketua Pelaksana Faizzah Ifada dan sambutan Ketua HIMEP Fahmi Aziz. Dalam sambutannya, Faizzah menyampaikan rasa bangganya terhadap antusiasme peserta yang mengikuti kompetisi tersebut.


“Kami merasa bangga pada antusias hari ini. Kehadiran teman-teman bisa membuktikan bahwa generasi muda memiliki kreativitas dan inovasi dalam berkomitmen dalam sektor ekonomi di Indonesia. Harapan kami kompetisi ini bukan hanya sekadar lomba saja, akan tetapi bisa menambahkan wawasan, menambah relasi, dan pengalaman,” ujarnya.


Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan Ketua Program Studi (Kaprodi) Ekonomi Pembangunan Untag Surabaya, Dr. Arga Christian Sitohang, S.E., M.M., mengenai masa depan industri kreatif di Indonesia. Selain memberikan sambutan, Dr. Arga juga menjadi salah satu dewan juri dalam kompetisi tersebut bersama Dr. Joko Priono, M.M., serta Feriona Ayurizta Iliyas, mahasiswa Program Studi Akuntansi semester 6 Untag Surabaya.


Menurut Dr. Arga, sektor ekonomi kreatif memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian nasional sekaligus membuka peluang kerja baru.


“Acara ini diproyeksikan sebagai penyokong ekspor di NKRI. Oleh karena itu, kita berharap ekonomi kreatif itu bukan hanya sekadar untuk menciptakan produk atau jasa yang inovatif, tetapi harus mampu menjadi sumber kekuatan baru yang dapat membuka lapangan pekerjaan baru," tutur Dr. Arga (21/5)


Persaingan di babak final berlangsung ketat. Dewan juri menilai peserta berdasarkan kesesuaian tema serta kemampuan menghadirkan ide kreatif yang realistis dan aplikatif. Dr. Joko Priono menjelaskan bahwa penilaian dilakukan secara objektif dengan menitikberatkan pada inovasi yang dapat diterapkan secara nyata.


"Bagi saya sebagai juri, tidak ada istilah bahasa kejutan. Prinsip penilaian kami mutlak mengacu pada kaitan inovasi yang kreatif. Kami mencari bagaimana generasi muda ini mampu memahami inovasi yang realistis, yaitu sebuah pemikiran konkret yang tidak hanya indah di atas kertas, tetapi benar-benar bisa dipahami, dijalankan, serta dikembangkan di dunia nyata," jelas Dr. Joko (21/5)


Ia juga mengingatkan pentingnya persiapan yang matang sebelum mengikuti kompetisi. Menurutnya, pemahaman terhadap tujuan perlombaan sangat memengaruhi kualitas presentasi peserta.


“Informasi mengenai kegiatan harus dipahami secara jelas, apa maksud kegiatannya, tujuannya, dan bagaimana mempersiapkan diri agar bisa tampil lebih tepat dan matang. Dengan persiapan yang kuat, peserta akan mampu memaparkan tujuan dari gagasan yang ingin mereka sampaikan secara gamblang saat sesi presentasi,” tambahnya 


Selain itu, Dr. Joko berharap publikasi DECO dapat diperluas agar menjangkau lebih banyak siswa dari berbagai daerah.


“Kompetisi berskala luar biasa ini terus ditingkatkan jangkauan publikasinya di masa mendatang. Dengan publikasi yang lebih luas, kegiatan ini akan mampu menjaring lebih banyak potensi dari siswa SMA, SMK, dan MA di berbagai daerah. Semakin banyak peserta yang terlibat, maka semakin besar pula peluang kampus untuk mendapatkan gagasan-gagasan emas dari generasi muda yang nantinya dapat disebarluaskan sebagai bahan keilmuan baik di dalam maupun di luar lingkungan universitas,” katanya 


Berdasarkan keputusan dewan juri, Juara 1 diraih Tim 4 dari SMAN 1 Badegan Kabupaten Ponorogo yang beranggotakan Mufidah Mar’atus S dan Hanik Mazkiya. Juara 2 diraih Tim 11 yang juga berasal dari SMAN 1 Badegan Kabupaten Ponorogo. Sementara itu, Tim 6 dari SMAN 1 Pronojiwo Kabupaten Lumajang berhasil meraih Juara 3 dan Tim 7 dari SMAK Frateran Surabaya menempati posisi Juara 4.


Kemenangan Tim 4 disambut haru dan bangga oleh para anggotanya. Mufidah dan Hanik mengaku keikutsertaan mereka bermula dari rekomendasi guru pembimbing ekstrakurikuler karya ilmiah remaja di sekolahnya.


Setelah menerima pamflet DECO 2026 dari panitia, mereka mulai membentuk kelompok, berdiskusi mengenai ide, hingga menyusun karya ilmiah untuk dikumpulkan. Proses menunggu pengumuman semifinal hingga lolos ke Grand Final di Untag Surabaya diakui menjadi tantangan tersendiri.


“Kami merasa sangat senang dan bangga. Mengingat kerja keras di awal, kami sempat berada di titik lelah dan rasanya seperti mau menyerah saja. Semua usaha tersebut terbalaskan dengan hasil yang sangat memuaskan,” ungkap perwakilan Tim 4


Mereka juga mengaku ingin terus mengembangkan kemampuan dengan mengikuti kompetisi serupa di tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, mereka berharap DECO di masa mendatang dapat dikemas lebih interaktif dan berkelanjutan sebagai wadah kreativitas generasi muda.


DECO 2026 ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada para pemenang yang berhasil menyisihkan belasan tim lainnya. Ajang ini juga menjadi wadah bagi generasi muda dalam menghadirkan ide-ide baru untuk pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. (Husni)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id