Atlet Wushu Untag Surabaya Ini Pernah Bertanding Melawan 10 Negara

  • 05 Oktober 2026
  • 47

Dion Marcellino Lumban Gaol bukan nama baru di arena Wushu. Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya tersebut telah mencatatkan namanya di berbagai kejuaraan, dari level nasional hingga panggung internasional.


Berasal dari Kota Surabaya dan berdarah campuran Batak dari sang ayah, Dion mulai mengenal Wushu sebagai olahraga bela diri pada umumnya. Namun, setelah terjun lebih jauh, pandangannya terhadap olahraga tersebut berubah. Wushu tidak lagi sekadar olahraga, tetapi menjadi bagian penting dalam kehidupannya sebagai atlet.


“Bagi ku, mulanya Wushu seperti olahraga olahraga beladiri seni pada umumnya, namun lambat laun terjun kedalam dunia Wushu, Wushu ini menjadi seperti lebih dari sekadar olahraga seni pada umumnya,” ujar Dion.


Menurut Dion, Wushu memberinya pengalaman dalam melatih kelenturan sekaligus ketahanan tubuh. Ia kemudian menekuni latihan dengan giat hingga berhasil meraih berbagai penghargaan.


“Dalam Wushu saya belajar mengenai kelenturan tubuh, ketahanan tubuh. Jadi saya tekunin dekat giat berlatih sampai pada akhirnya bisa mendapatkan penghargaan yang luar biasa didalam hidup saya,” tuturnya.


Dalam perjalanannya sebagai atlet, Dion tidak hanya berlatih gerakan Wushu, tetapi juga mendalami berbagai kategori yang menggunakan senjata tradisional. Salah satunya Nan Dao, yaitu golok tradisional yang digunakan dalam kategori jurus Nan Dao. Ada pula Gun Shu yang menggunakan tongkat atau toya, serta Jian Shu dengan pedang tipis yang dalam pertandingan lebih mengandalkan kelenturan tubuh.


Selain ketiga kategori tersebut, Dion juga mengenal sejumlah senjata tradisional lainnya, seperti Nan Chaku dan Bu Dao.


Dion menjalani latihan di sasana Wonoroseto. Logo sasana tersebut terpasang di bagian dada kiri seragam Wushu yang dikenakannya. Di bawah binaan Wonoroseto, terdapat berbagai cabang bela diri, mulai dari Wushu Taolu (seni), Tai Chi, Muay Thai, Savate, Tarung Derajat, hingga Wushu Sanda (tarung).


Sementara itu, logo Aliansi Kungfu Indonesia terpasang di bagian dada kanan seragamnya. Kiprahnya sebagai atlet juga membawanya bertanding dalam Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) 2024 di Bogor.


Prestasi terbarunya diraih dalam Kejuaraan Wushu Citra Satria Cup tingkat nasional yang berlangsung pada 21–23 Agustus 2026. Dion berhasil meraih Juara 1 dalam kejuaraan tersebut.


Jauh sebelum itu, Dion telah merasakan atmosfer kompetisi internasional. Ia mewakili Indonesia dalam Bali International Kungfu Championship pada 17–22 Desember 2018 dan berhasil meraih Juara 2. Kejuaraan tersebut diikuti peserta dari lebih dari 10 negara dan menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya.


“Yang paling berkesan adalah karena kejuaraan internasional karena diikuti lebih dari 10 negara yang ikut serta. Selain menjadi rival saat bertanding, mereka juga menjadi teman-teman baru bagi saya untuk saling sharing dan support,” ujar Dion.


Dion resmi menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Untag Surabaya pada 2025 dan kini duduk di semester 3. Kesibukannya sebagai mahasiswa tidak membuatnya meninggalkan Wushu yang telah menjadi bagian dari kehidupannya sebagai atlet.


Prestasi tersebut juga mendapat apresiasi dari Untag Surabaya. Sebagai Kampus Merah Putih yang turut mendukung prestasi akademik dan nonakademik, Untag memberikan pembebasan uang gedung atau DPP sebagai bentuk penghargaan atas prestasi yang diraih Dion.


Bagi Dion, apresiasi tersebut memiliki arti tersendiri karena menjadi bentuk penghargaan kampus terhadap berbagai kejuaraan Wushu yang telah diikutinya.


Meski telah meraih sejumlah prestasi, perjalanan Dion sebagai atlet tidak selalu berjalan mudah. Tantangan terberat justru kerap datang dari dirinya sendiri, terutama ketika harus melawan rasa malas saat menjalani latihan. Dukungan kedua orang tua menjadi salah satu hal yang membantunya tetap konsisten berlatih dan mengikuti pertandingan.


Selain kesiapan fisik, Dion juga harus mempersiapkan mental sebelum turun ke arena. Hasil pertandingan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ia pernah mengalami kondisi ketika penampilannya sudah maksimal, tetapi hasil penilaian juri belum sesuai dengan yang diharapkan.


Pengalaman tersebut sempat membuat Dion merasa sedih dan kecewa. Namun, ia tidak menjadikannya alasan untuk berhenti. Sebaliknya, hasil tersebut digunakan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kemampuan. Baginya, kegagalan dalam pertandingan merupakan bagian dari proses untuk berkembang dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.


“Dari kegagalan tersebut menjadi guru terbaik saya untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya,” tegas Dion.


Bagi Dion, motivasi menjadi kunci untuk tetap bertahan di tengah persaingan yang semakin tinggi. Tujuan yang besar membuatnya terus menjaga semangat untuk berkembang di bidang yang diminatinya.


“Motivasi adalah kunci, karena jika kita memiliki motivasi yang besar serta tujuan yang besar maka kita pasti bertahan dan berkembang. Syukur-syukur kita menjadi atlet terbaik di bidang yang kita minati,” tutupnya.


Dukungan keluarga dan apresiasi dari lingkungan kampus menjadi bagian yang mengiringi perjalanan Dion sebagai atlet. Berbagai pengalaman di kompetisi nasional hingga internasional menjadi bekal baginya untuk terus berlatih dan mengejar prestasi pada kejuaraan berikutnya. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id