Negeri Serba Tepung, Potret Sektor Informal Indonesia

  • 01 Oktober 2026
  • 14

Fenomena menjamurnya pedagang kecil berbasis makanan murah, seperti cilok, seblak, dan aneka jajanan tepung, kerap dilihat sebagai bentuk ketangguhan ekonomi rakyat. Namun, data ketenagakerjaan menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 sebesar 4,65 persen, sementara proporsi pekerja informal masih berada di kisaran 59 persen dari total penduduk bekerja.


Kondisi tersebut berkaitan dengan tantangan penyerapan tenaga kerja di sektor formal, termasuk manufaktur. Dalam kajian ekonomi, fenomena ketika sektor industri kehilangan daya serap sebelum negara mencapai tingkat kemakmuran tinggi sering disebut sebagai deindustrialisasi dini. Dani Rodrik dalam kajian premature deindustrialization menjelaskan bahwa sejumlah negara berkembang mengalami penurunan peran manufaktur lebih awal dibanding pola industrialisasi klasik.


Di tengah keterbatasan lapangan kerja formal, sebagian masyarakat masuk ke sektor usaha kecil bukan semata karena peluang bisnis yang besar, tetapi karena kebutuhan bertahan hidup. Dalam literatur kewirausahaan, kondisi ini dikenal sebagai necessity entrepreneurship, yaitu berwirausaha karena terbatasnya pilihan kerja lain. Pola ini berbeda dengan opportunity entrepreneurship yang lahir dari inovasi, modal lebih siap, dan peluang pasar yang lebih kuat.


Besarnya pekerja informal juga menunjukkan belum optimalnya perpindahan tenaga kerja dari sektor berproduktivitas rendah menuju sektor modern yang lebih produktif. Dalam model ekonomi Lewis, pembangunan idealnya terjadi ketika sektor modern menyerap surplus tenaga kerja dari sektor tradisional atau subsisten. Jika penyerapan tidak berjalan kuat, sektor informal berisiko menjadi ruang bertahan hidup jangka panjang, bukan sekadar tempat transisi sementara.


Persoalan ini turut berkaitan dengan ketahanan pangan rumah tangga. Mengacu pada Entitlement Approach yang dikembangkan Amartya Sen, kerentanan pangan tidak hanya disebabkan oleh ketersediaan bahan makanan, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk mengakses makanan melalui pendapatan, pekerjaan, dan daya beli. Karena itu, ketahanan pangan jangka panjang tidak cukup bertumpu pada bantuan sementara, tetapi juga memerlukan penciptaan pekerjaan produktif, penguatan daya beli, dan perluasan akses ekonomi bagi keluarga.


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id