Kopi Jadi Teman Mahasiswa, Tapi Jangan Sampai Berlebihan

  • 11 September 2026
  • 10

Bagi mahasiswa, kopi sering kali bukan sekadar minuman. Secangkir kopi dapat menemani mengerjakan tugas, berdiskusi, mengikuti kelas pagi, hingga menjalani berbagai aktivitas organisasi. Saat aktivitas kampus semakin padat, kopi pun kerap menjadi pilihan untuk membantu tubuh tetap terjaga.


Kebiasaan tersebut bukan berarti kopi perlu dihindari. Namun, jumlah dan waktu mengonsumsinya tetap perlu diperhatikan. Mengutip CNN Indonesia, konsumsi kopi sekitar dua hingga tiga cangkir per hari dikaitkan dengan risiko gangguan suasana hati dan gangguan terkait stres yang lebih rendah.


Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders tersebut menganalisis data 461.586 peserta dari UK Biobank. Para peneliti melihat hubungan antara konsumsi kopi sehari-hari dan berbagai kondisi kesehatan mental selama median masa tindak lanjut 13,4 tahun.


Menariknya, hasil penelitian menunjukkan pola berbentuk huruf J. Artinya, hubungan antara konsumsi kopi dan risiko gangguan mental tidak berjalan sederhana dengan prinsip “semakin banyak semakin baik”. Risiko berada pada titik terendah ketika konsumsi berada pada tingkat sedang, yaitu dua hingga tiga cangkir sehari.


Temuan tersebut cukup relevan bagi mahasiswa yang terbiasa mengandalkan kopi ketika aktivitas sedang padat. Saat tugas dan kegiatan kampus menumpuk, kopi mungkin terasa seperti solusi cepat untuk menjaga tubuh tetap terjaga. Namun, menambah konsumsi kopi bukan berarti memberikan manfaat yang semakin besar.


Selain jumlahnya, waktu mengonsumsi kopi juga perlu diperhatikan. Kopi yang diminum terlalu dekat dengan waktu tidur berpotensi mengganggu waktu istirahat. Padahal, tidur yang cukup tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi tubuh dan menunjang aktivitas sehari-hari.


Meski begitu, hasil penelitian ini tidak berarti kopi dapat digunakan untuk mengobati stres atau gangguan mental. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara pola konsumsi kopi dan risiko gangguan mental, bukan membuktikan bahwa kopi secara langsung membuat seseorang terhindar dari stres.


Karena itu, mahasiswa tetap perlu melihat kopi sebagai bagian dari pola hidup, bukan pengganti istirahat. Mengatur jumlah konsumsi, memperhatikan waktu minum, serta memastikan tubuh mendapat waktu istirahat yang cukup dapat menjadi pilihan yang lebih bijak.


Pada akhirnya, kopi memang bisa menjadi teman dalam menjalani rutinitas kampus. Namun, seperti halnya aktivitas lain, menikmatinya secukupnya mungkin lebih baik daripada menjadikannya satu-satunya cara untuk bertahan menghadapi kesibukan. (Aura)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id