Dua Badak Kalimantan Tersisa, Pahu dan Pari Jadi Harapan Terakhir Konservasi

  • 31 Maret 2026
  • 89

Badak Kalimantan kini berada di titik paling kritis. Pemerintah dan pegiat konservasi menyebut hanya dua individu yang diketahui masih bertahan, yakni Pahu dan Pari, keduanya betina, sehingga reproduksi alami praktis nyaris mustahil.


Badak Kalimantan bukan spesies terpisah, melainkan subspesies badak sumatra, Dicerorhinus sumatrensis harrissoni. Setelah lama diduga lenyap dari Kalimantan, jejaknya kembali terkonfirmasi pada 2013, lalu penemuan seekor betina di Kutai Barat pada 2016 menegaskan satwa itu belum sepenuhnya hilang dari pulau tersebut.


Kini, Pahu berada di Kelian Rhino Sanctuary, Kutai Barat, setelah dipindahkan pada 2018. Sementara itu, Pari masih hidup terisolasi di kawasan Mahakam Ulu dan disebut sebagai individu terakhir yang masih berkeliaran di alam liar, sehingga proses penyelamatannya dipandang sangat mendesak.


Karena dua individu tersisa sama-sama betina, para ahli kini menempuh teknologi reproduksi berbantu. Pada 5 November 2024, prosedur ART dilakukan pada Pahu di Kelian, sementara pemerintah menyebut pembuahan oosit dengan sperma badak sumatra dari Way Kambas dan transfer embrio ke induk pengganti menjadi opsi yang sedang diupayakan.


Bagi ekosistem hutan, badak sumatra berperan sebagai pemakan pucuk dan penyebar biji yang membantu regenerasi vegetasi. Karena itu, kisah Pahu dan Pari bukan sekadar soal dua satwa langka, melainkan juga ujian bagi keseriusan konservasi Indonesia menyelamatkan salah satu mamalia besar paling terancam di dunia. (Ivan)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\