Yulistiya Rafa Aurelia Cinta, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, berhasil meraih Harapan III kategori menyanyi keroncong putri dalam Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) Jawa Timur 2026.
Mahasiswa semester 3 tersebut tampil mewakili Untag Surabaya pada kompetisi yang berlangsung di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), 12 Juli 2026. Dalam ajang tersebut, Yulistiya membawakan dua lagu, yakni “Kr. Jayalah Indonesiaku” sebagai lagu wajib dan “Stb. Jauh di Mata” sebagai lagu pilihan.
Keikutsertaan Yulistiya dalam PEKSIMIDA menjadi pengalaman baru. Meski telah tertarik pada dunia tarik suara sejak sekolah dasar dan mulai menekuni kegiatan bernyanyi saat bergabung dalam ekstrakurikuler band di SMK, ia mengaku belum familiar dengan musik keroncong.
“Saya sangat awam dengan musik keroncong. Namun, karena sudah dipercaya mewakili Untag Surabaya di PEKSIMIDA 2026, saya mau belajar musik keroncong,” ujar Yulistiya (8/8).
Setelah lolos seleksi internal Untag Surabaya, Yulistiya mulai mempelajari karakter musik keroncong sebagai persiapan menghadapi kompetisi. Menurutnya, genre tersebut memiliki tantangan tersendiri, terutama pada tempo dan nada yang berbeda dari jenis musik yang biasa ia nyanyikan.
“Tempo lagu keroncong sangat sulit ditebak, begitu juga dengan nada-nadanya yang sebelumnya belum pernah saya dengar,” jelasnya.
Dalam proses persiapan, Yulistiya mendapat pendampingan dari tutor. Ia mempelajari lagu yang akan dibawakan sekaligus menyesuaikan kemampuan vokalnya dengan karakter musik keroncong. Pemilihan lagu “Stb. Jauh di Mata” juga dilakukan dengan arahan tutor yang mendampinginya selama latihan.
Hasil tersebut menjadi capaian berharga bagi Yulistiya. Ia mengaku bersyukur karena dapat membawa pulang penghargaan sekaligus mengharumkan nama Untag Surabaya.
“Perasaan saya bersyukur dan senang berhasil mendapat penghargaan dengan membawa nama Untag Surabaya,” ungkapnya.
Bagi Yulistiya, PEKSIMIDA tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang belajar untuk mengenal keberagaman musik. Pengalaman mempelajari keroncong membuatnya memahami bahwa setiap genre memiliki karakter dan keunikan masing-masing.
“Dari perlombaan ini saya belajar bahwa musik memiliki warna yang beragam. Saya sadar bahwa musik memiliki keunikannya masing-masing,” tuturnya.
Selain meningkatkan kemampuan bernyanyi, pengalaman mengikuti PEKSIMIDA juga melatih Yulistiya dalam mengatur waktu, membangun mental tampil di hadapan banyak orang, serta memperluas relasi. Ia berharap pengalaman tersebut menjadi bekal untuk terus berkembang dan mengikuti kompetisi berikutnya.
Prestasi Yulistiya menjadi bukti bahwa mahasiswa Untag Surabaya memiliki ruang untuk mengembangkan potensi tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga seni. Melalui capaian ini, ia berharap dapat terus mengasah kemampuan tarik suara dan kembali membawa nama baik kampus pada ajang selanjutnya. (Dini)