Wayang Kulit Ramaikan Dies Natalis ke-68 Untag Surabaya

  • 27 Agustus 2026
  • 17

Pagelaran Wayang Kulit menjadi salah satu rangkaian peringatan Dies Natalis ke-68 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Kegiatan yang digelar di pelataran Fakultas Kedokteran Untag Surabaya pada Sabtu malam (22/8/2026) tersebut menghadirkan Ki Minto Darsono sebagai dalang.


Dalam pagelaran tersebut, Ki Minto Darsono membawakan lakon “Wahyu Katentreman” yang mengangkat kisah perjuangan Pandawa dalam membangun kembali Kerajaan Amarta. Lakon ini memuat pesan tentang perjuangan, sinergi, keteguhan, serta pentingnya membangun kehidupan yang tenteram dan harmonis.


Kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WIB itu dihadiri Ketua Pembina Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, Pengurus YPTA Surabaya beserta jajaran, Rektor Untag Surabaya beserta jajaran, serta pejabat struktural akademik dan administratif di lingkungan Untag Surabaya.


Rangkaian acara diawali dengan registrasi undangan dan pertunjukan campursari. Pembukaan pagelaran kemudian ditandai dengan penyerahan simbolis wayang kulit oleh Ketua YPTA Surabaya, J. Subekti, S.H., M.M., kepada Ki Minto Darsono.




Setelah prosesi pembukaan, pagelaran dilanjutkan dengan sesi wayangan yang menampilkan lakon “Wahyu Katentreman”. Suasana acara semakin meriah dengan kehadiran Cak Percil dan kawan-kawan yang menghibur undangan serta warga sekitar melalui guyonan khas Jawa Timur.


Selain pertunjukan wayang dan hiburan, rangkaian kegiatan juga diisi dengan pembagian doorprize, pemotongan tumpeng, penyerahan suvenir kepada dalang, serta sesi foto bersama. Pagelaran berlangsung hingga dini hari dan tetap mendapat antusiasme dari para hadirin.


Rektor Untag Surabaya, Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T., menyampaikan bahwa lakon yang dibawakan dalam pagelaran tersebut memiliki filosofi tentang pentingnya kerja sama, sinergi, dan inovasi dalam membangun institusi. Menurutnya, semangat tersebut relevan dengan perjalanan Untag Surabaya dalam memperkuat kualitas pendidikan tinggi.


“Membangun itu artinya harus bekerja sama, bersinergi, dan terus berinovasi. Dari sekitar 4.000 perguruan tinggi swasta di Indonesia, baru 90 yang masuk kategori unggul, dan Untag termasuk di dalamnya. Itu artinya kita tidak boleh berhenti berinovasi,” ujarnya.


Hadirnya Wayang Kulit dalam rangkaian Dies Natalis ke-68 Untag Surabaya menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus hiburan bagi sivitas akademika dan masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, Untag Surabaya tidak hanya memperingati hari jadinya, tetapi juga turut mendukung keberlangsungan kesenian tradisional dan para pelaku seni. (Maulana)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id