Ujian Doktor Untag Surabaya Soroti Kesiapan Guru Era AI

  • 15 September 2026
  • 3

Kesiapan guru menghadapi transformasi digital menjadi fokus penelitian Sucik Rahayu, S.Pd., M.M., dalam Ujian Doktor Ilmu Ekonomi (DIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Penelitian tersebut dipaparkan di Meeting Room Grha Wiyata Untag Surabaya, Jumat (11/9/2026).


Disertasi tersebut berjudul “Pengaruh Artificial Intelligence Readiness, Digital Leadership, dan Digital Workplace Culture terhadap Future Teaching Skill melalui Technology Acceptance dan Change Readiness pada Guru SMK Negeri Kabupaten Grobogan dalam Perspektif Islam”.


Kajian ini berangkat dari fenomena transformasi digital di lingkungan pendidikan vokasional yang dinilai belum berjalan maksimal. Dalam penelitiannya, Sucik menyoroti kesiapan guru dalam menghadapi perubahan teknologi, khususnya pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam proses pembelajaran.


Berdasarkan data awal yang digunakan dalam penelitian, tingkat Artificial Intelligence Readiness guru berada pada angka 35 persen. Sementara itu, Digital Leadership tercatat 42 persen, Digital Workplace Culture 48 persen, Technology Acceptance 38 persen, Change Readiness 41 persen, dan Future Teaching Skill 50 persen.


Temuan awal tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara tuntutan transformasi digital dan kesiapan guru dalam mengadopsi teknologi. Kondisi ini menjadi dasar penelitian untuk menguji hubungan antara kesiapan AI, kepemimpinan digital, budaya kerja digital, penerimaan teknologi, kesiapan menghadapi perubahan, dan keterampilan mengajar masa depan.


Sucik menjelaskan, pemilihan topik penelitian tidak terlepas dari perkembangan transformasi digital yang semakin memengaruhi dunia pendidikan. Menurutnya, sekolah telah mulai menjalankan transformasi digital, tetapi penerapannya masih perlu diperkuat agar teknologi benar-benar mendukung pembelajaran.


“Saat ini kita berada dalam transformasi digital. Fenomena yang ada dalam sekolah atau objek tersebut memang saat ini sudah menjalankan transformasi digital, tetapi masih belum terlaksana dengan maksimal,” ujar Sucik.


Penelitian tersebut menguji sejumlah jalur pengaruh untuk melihat faktor yang berperan dalam pembentukan future teaching skill. Hasil penelitian menunjukkan Artificial Intelligence Readiness berpengaruh positif dan signifikan terhadap Technology Acceptance serta Future Teaching Skill. Namun, variabel tersebut tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap Change Readiness.


Sementara itu, Digital Leadership terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap Technology Acceptance, Change Readiness, dan Future Teaching Skill. Hasil serupa juga terlihat pada Digital Workplace Culture yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketiga variabel tersebut.


Temuan ini memperlihatkan bahwa penerimaan teknologi menjadi salah satu jalur penting dalam membangun keterampilan mengajar masa depan. Artinya, penyediaan teknologi saja belum cukup apabila tidak diikuti kemampuan, kesiapan, dan kemauan guru untuk menggunakannya dalam praktik pembelajaran.


Ke depan, Sucik menilai transformasi digital di sekolah perlu melibatkan seluruh unsur, mulai dari guru, kepala sekolah, hingga sivitas sekolah. Pemahaman terhadap AI dan teknologi menjadi kebutuhan, tetapi penerapannya tetap harus memperhatikan batasan dan etika.


“Untuk harapan ke depan, terkait dengan disertasi saya, tentunya guru, kepala sekolah, dan semua sivitas sekolah harus melek AI dan melek teknologi. Namun, semua ada batasnya, ada etikanya,” jelasnya.


Melalui penelitian ini, transformasi digital pendidikan dipahami tidak hanya bergantung pada ketersediaan perangkat dan platform teknologi. Kesiapan sumber daya manusia, kepemimpinan digital, budaya kerja, penerimaan teknologi, serta kesiapan menghadapi perubahan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan guru menghadapi tuntutan future teaching skill. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id