Melati Wijsen Ajak Mahasiswa Baru Untag Surabaya Jadi Change Maker

  • 01 September 2026
  • 8

Menjadi penggerak perubahan tidak harus menunggu dewasa atau memiliki posisi besar. Bagi Melati Wijsen, aktivis lingkungan asal Bali yang memulai gerakan pengurangan sampah plastik sejak usia belia, keberanian menyuarakan persoalan di sekitar dan mengajak orang lain bergerak bersama dapat menjadi awal untuk menciptakan perubahan.


Pesan tersebut disampaikan Melati, pendiri gerakan Bye Bye Plastic Bags dan Youthtopia, saat menjadi pemateri dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Untag Surabaya 2026, Selasa (25/8/2026).


Perjalanan Melati sebagai penggerak perubahan dimulai ketika usianya baru 12 tahun. Bersama sang adik, ia mendirikan Bye Bye Plastic Bags dengan tujuan mendorong Pulau Bali terbebas dari penggunaan kantong plastik. Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa usia bukan batas untuk mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar.


“Harus lebih berani menyuarakan persoalan serta mengajak orang lain untuk bersama-sama menciptakan perubahan baik sejak muda,” katanya (25/8)


Untuk menjadi seorang change maker, Melati mengajak mahasiswa baru memulainya dengan menentukan satu persoalan spesifik yang ingin diselesaikan. Fokus pada satu isu membuat upaya perubahan lebih terarah dan memiliki tujuan yang jelas.


Perubahan juga tidak dapat berjalan seorang diri. Merangkul tim dan membangun kolaborasi menjadi bagian penting untuk memperluas dampak. Ide yang dikembangkan melalui kreativitas dan pola pikir think outside the box pun dapat membuka berbagai kemungkinan dalam mencari solusi.


Dalam proses tersebut, kegagalan menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Karena itu, keberanian menghadapi kegagalan diperlukan agar langkah untuk menciptakan perubahan tidak berhenti ketika menemui hambatan.


Lebih dari sekadar sebuah gerakan, semangat menjadi change maker perlu dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan untuk peduli, mempertanyakan persoalan, dan mencari solusi dapat menjadi langkah kecil yang perlahan menghasilkan perubahan lebih besar.


“Kalau kita mau membuat perubahan, kita harus mulai dari diri sendiri dengan mulai bertanya,” ujar Melati.


Pesan tersebut menemukan relevansinya melalui konsep eco campus yang diterapkan pada PKKMB Untag Surabaya 2026. Mahasiswa baru diwajibkan membawa tumbler selama mengikuti rangkaian kegiatan sebagai salah satu upaya mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai. Sejumlah titik air minum dan tempat sampah juga disediakan untuk mendukung kebiasaan tersebut.


Bagi Melati, membawa tumbler dan mengurangi sampah plastik merupakan langkah sederhana yang tetap memiliki arti penting. Ia mengapresiasi penerapan konsep eco campus di Untag Surabaya dan berharap langkah tersebut dapat menjadi contoh bagi lingkungan pendidikan lainnya.


“Mulai dari hal kecil, seperti membawa tumbler dan mengurangi sampah plastik. It starts from UNTAG to the rest of Surabaya and the rest of the world,” tutupnya


Bagi Melati, perubahan tidak selalu lahir dari langkah besar. Ia dapat dimulai dari keberanian untuk bertanya, kepedulian terhadap persoalan di sekitar, dan kemauan untuk mengajak orang lain bergerak bersama. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id