El Nino Sangat Kuat Tingkatkan Risiko Kekeringan Indonesia

  • 19 Oktober 2026
  • 19

Indonesia masih menghadapi dampak El Niño dengan intensitas sangat kuat yang diperkuat Indian Ocean Dipole (IOD) positif. BMKG mencatat anomali suhu muka laut Niño3.4 pada Dasarian I Oktober 2026 mencapai +3,33 derajat Celsius, sementara indeks IOD berada pada fase positif. Kondisi tersebut mengurangi potensi pembentukan awan hujan dan mempertahankan kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia.




Kondisi kering terutama terasa di wilayah Indonesia bagian selatan. Pada Dasarian I September 2026, sekitar 81 persen Zona Musim telah memasuki musim kemarau dan 1.637 titik pengamatan mengalami Hari Tanpa Hujan lebih dari 60 hari. Memasuki Oktober, BMKG masih menetapkan status peringatan dini kekeringan meteorologis hingga kategori awas di sejumlah wilayah, termasuk sebagian Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera Selatan, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua Selatan.




Atmosfer yang kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan pemantauan BMKG pada 7–16 September 2026, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi paling banyak terdeteksi di Kalimantan Tengah sebanyak 3.177 titik, Sumatera Selatan 1.305 titik, Kalimantan Barat 1.088 titik, dan Papua Selatan 960 titik. BMKG mengingatkan bahwa kebakaran pada lahan gambut dapat bertahan lebih lama karena api berpotensi menjalar hingga lapisan bawah permukaan tanah.




Dampak kekeringan turut dirasakan sektor pertanian. Kementerian Pertanian mencatat hingga 24 Juli 2026 terdapat 44.694 hektare pertanaman padi terdampak kekeringan dan 12.304 hektare mengalami gagal panen. Sementara itu, BPS memperkirakan luas panen padi pada September–November 2026 turun 12,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Potensi produksi padi diperkirakan turun 11,96 persen dan produksi beras 11,95 persen. Data tersebut menunjukkan perlunya menjaga pasokan air dan mengantisipasi tekanan terhadap produksi pangan.




BMKG juga memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di 529 Zona Musim atau 61,08 persen luas daratan Indonesia akan datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal. Meski demikian, hujan lebat lokal tetap dapat terjadi di tengah kondisi kering sehingga masyarakat perlu mewaspadai perubahan cuaca secara cepat. Kepala BMKG Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D. mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan terhadap dampak El Niño dan dinamika cuaca selama masa transisi menuju musim hujan. (Ivan)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id