Dosen Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Drs. Cuk Yuana, M.Hum., menjadi presenter dalam Eurasia Convention Busan 2026 di Korea Selatan. Keikutsertaan tersebut menjadi langkah Untag Surabaya dalam memperluas jejaring akademik dan membuka peluang kolaborasi internasional.
Forum internasional yang diselenggarakan Eurasia Foundation (from Asia) itu berlangsung pada 3–4 Agustus 2026 di Lotte Hotel Busan. Mengusung tema “The Role of Education in the Age of Chaos – Hope for a New Era”, kegiatan tersebut mempertemukan lebih dari 600 akademisi dan ilmuwan dari berbagai negara untuk membahas peran pendidikan dalam menghadapi tantangan global.
Dalam forum tersebut, Cuk Yuana mempresentasikan hasil penelitian kolaborasi internasional antara Untag Surabaya dan Royal University of Phnom Penh, Kamboja. Penelitian berjudul “Culture Education in the Family as Foundation for Young Generation Resilience in the Era of Digital Disruption” itu menyoroti pentingnya pendidikan budaya dalam keluarga sebagai fondasi ketahanan generasi muda di era disrupsi digital.
Kesempatan tampil di Eurasia Convention Busan 2026 berawal dari keterlibatannya dalam program hibah Eurasia Foundation Japan. Sebelumnya, Cuk Yuana mengajukan proposal penyelenggaraan Eurasia International Lecture di Untag Surabaya. Proposal tersebut diterima dan menjadi awal diperolehnya hibah bagi Program Studi Sastra Jepang FIB Untag Surabaya melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM).
“Setelah Eurasia International Lecture di Untag Surabaya berjalan selama dua minggu, saya mendapat undangan untuk menjadi pembicara di Eurasia Convention 2026 Busan, Korea Selatan. Saya kemudian mengirimkan judul, abstrak, dan outline kepada panitia, hingga akhirnya diterima sebagai salah satu pembicara pada sesi breakout,” jelas Cuk Yuana (12/8).
Bagi Cuk Yuana, keikutsertaan dalam forum tersebut menjadi pengalaman penting, baik secara akademik maupun kelembagaan. Selain membawa nama Untag Surabaya ke tingkat internasional, forum itu juga menjadi ruang untuk membangun jejaring dengan akademisi dari berbagai universitas di dunia.
“Pertama, saya bangga bisa mewakili Untag Surabaya di kancah internasional. Saya bisa membawa nama baik kampus agar semakin dikenal oleh universitas luar negeri, khususnya negara-negara yang mengirimkan perwakilan dalam convention tersebut,” ujarnya.
Jejaring akademik yang terbentuk dalam forum itu juga membuka peluang pengembangan kerja sama internasional. Beberapa potensi kolaborasi yang dapat ditindaklanjuti meliputi penelitian bersama, program pengabdian kepada masyarakat atau KKN luar negeri, pertukaran dosen, pertukaran mahasiswa, hingga peninjauan kurikulum.
Salah satu tindak lanjut yang mulai dijajaki adalah kerja sama dengan Royal University of Phnom Penh, Kamboja. Dalam kesempatan tersebut, Cuk Yuana menyerahkan dokumen Memorandum of Understanding (MoU) Untag Surabaya yang telah ditandatangani Rektor Untag Surabaya kepada perwakilan akademisi Royal University of Phnom Penh, Prof. Loch Leaksmy, untuk diproses lebih lanjut di universitas tersebut.
Cuk Yuana berharap dukungan Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya dan Untag Surabaya terhadap akademisi yang berkiprah di tingkat internasional dapat terus diperkuat. Ia juga berharap Program Studi Sastra Jepang FIB Untag Surabaya kembali memperoleh hibah Eurasia Foundation Japan untuk menyelenggarakan Eurasia International Lecture pada 2027 dan tahun-tahun berikutnya.
Keikutsertaan Cuk Yuana dalam Eurasia Convention Busan 2026 menjadi bagian dari upaya Untag Surabaya memperkuat reputasi akademik global. Melalui forum tersebut, riset dosen tidak hanya dipresentasikan di tingkat internasional, tetapi juga diarahkan untuk membuka ruang kolaborasi yang lebih luas di bidang pendidikan, budaya, dan pengembangan sumber daya manusia. (Dini)