Alumni Untag Surabaya Bagikan Prinsip Karier di Jepang

  • 27 Agustus 2026
  • 22

Bagi Mustofa Saifa Ardana, karier bukan sekadar kemampuan menyelesaikan pekerjaan. Alumni Program Studi Teknik Sipil Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya itu memegang tiga prinsip hidup yang ia dapatkan dari sang ayah, yakni “benar, kurup, janji”.


Tiga prinsip tersebut ia bawa sejak menjadi mahasiswa hingga kini bekerja di Marutaka General Construction, Jepang, sebagai *Construction Design and Management Assistant*. Mustofa kembali ke almamaternya sebagai pembicara dalam Wisuda ke-133 Untag Surabaya pada Minggu (23/8/2026) untuk berbagi pengalaman kepada para lulusan yang akan memasuki dunia profesional.


Menurut Mustofa, kompetensi teknis saja tidak cukup untuk membangun karier. Kemampuan tersebut perlu berjalan bersama karakter, integritas, dan konsistensi dalam menjaga kepercayaan. Karena itu, prinsip yang ia terima dari keluarga menjadi pegangan penting ketika bekerja di lingkungan profesional.


Prinsip pertama adalah “benar”, yakni melakukan hal yang tepat meskipun tidak ada orang yang melihat. Bagi Mustofa, nilai ini diwujudkan melalui kejujuran dalam laporan, data, dan pekerjaan, keberanian mengakui kesalahan, serta tidak mengambil jalan pintas yang dapat membahayakan orang lain.


Sebagai profesional di bidang konstruksi, ia memahami bahwa setiap keputusan dalam pekerjaan memiliki konsekuensi. Kesalahan kecil dapat berdampak pada keselamatan, sehingga tanggung jawab dan ketelitian menjadi bagian penting dalam menjalankan profesi.


Prinsip kedua adalah “kurup”, yang ia maknai sebagai kemampuan mengetahui kepantasan diri, menempatkan diri, dan tetap rendah hati. Mustofa mengingatkan bahwa gelar maupun jabatan tidak boleh membuat seseorang merasa telah menguasai segala hal.


“Gelar bukan tanda bahwa kita sudah mengetahui semuanya,” ujarnya.


Menurut Mustofa, sikap rendah hati diperlukan ketika seseorang memasuki dunia kerja. Lingkungan profesional mempertemukan seseorang dengan berbagai karakter, pengalaman, dan cara berpikir. Karena itu, lulusan perlu tetap terbuka untuk belajar, menghargai orang yang lebih berpengalaman, dan mampu menempatkan diri.


Sementara itu, prinsip “janji” menjadi pengingat untuk menjaga kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Bagi Mustofa, kepercayaan dari keluarga, rekan kerja, teman, maupun masyarakat tidak cukup dijaga melalui perkataan, tetapi harus dibuktikan melalui tindakan nyata.


“Reputasi dibangun melalui konsistensi, sedangkan kepercayaan adalah sesuatu yang sangat berharga,” kata Mustofa.


Prinsip tersebut semakin ia rasakan ketika bekerja di Jepang. Berada di lingkungan profesional internasional membuatnya sadar bahwa ia tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga identitas sebagai orang Indonesia dan alumni Untag Surabaya.


Menurutnya, profesionalisme seseorang turut mencerminkan lingkungan yang membentuknya. Karena itu, menjaga integritas dan kepercayaan menjadi bagian dari tanggung jawab ketika membawa nama bangsa maupun almamater di luar negeri.


Mustofa juga mengingatkan para lulusan agar tidak takut memulai dari bawah. Menurutnya, perjalanan karier tidak selalu berlangsung cepat. Pekerjaan pertama belum tentu menjadi pekerjaan impian atau langsung memberikan penghasilan besar, tetapi setiap proses dapat menjadi ruang belajar.


“Karier adalah sebuah maraton, bukan lari 100 meter,” tutupnya.


Bagi Mustofa, “benar, kurup, janji” bukan sekadar tiga kata, melainkan pedoman dalam bersikap dan membangun reputasi jangka panjang. Ia berharap lulusan Untag Surabaya tidak hanya membawa ijazah ketika memasuki dunia profesional, tetapi juga karakter yang membuat ilmu, kemampuan, dan kepercayaan mereka dapat memberi manfaat bagi banyak orang. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id