Warta 17 Agustus Direktorat Sistem Informasi (DSI) YPTA Surabaya menggelar Seminar Fotografi Jurnalistik bertajuk “Wajah Pancasila di Era Nasionalisme Modern”. Acara berlangsung di Auditorium Lantai 6 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Kamis (11/6/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Komemorasi 2.0 “Pancasila dalam Satu Bingkai”. Seminar tersebut menghadirkan Ketua YPTA Surabaya J. Subekti, S.H., M.M. serta jurnalis foto Trisnadi Marjan, S.I.Kom. sebagai pemateri.
Acara dihadiri oleh jajaran pimpinan YPTA Surabaya, guru SMATAG dan SMPTAG Surabaya, serta perwakilan organisasi kemahasiswaan Untag Surabaya. Seminar ini menjadi ruang diskusi mengenai implementasi nilai-nilai Pancasila lewat media visual di tengah pesatnya teknologi digital.
Saat membuka acara, Direktur DSI YPTA Surabaya, Eko Halim Santoso, M.Kom., menegaskan pentingnya peran fotografi jurnalistik dalam menyampaikan informasi akurat sekaligus membangun kesadaran sosial.
"Fotografi jurnalistik harus berpihak pada kebenaran, kemanusiaan, dan kepentingan publik. Kamera bukan hanya alat untuk mengambil gambar, tetapi juga alat untuk menyampaikan pesan," tegas Eko.
Sebelum pemaparan materi, peserta disuguhkan penampilan puisi berjudul Sang Singa Podium oleh Monica Aveline Jasmine, siswi SMATAG Surabaya. Puisi yang mengisahkan sosok Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, tersebut dibawakan dengan penuh penghayatan hingga memukau penonton.
Pada sesi pertama, J. Subekti membawakan tema “Melihat Wajah Pancasila Melalui Lensa Sejarah dan Nasionalisme Modern”. Ia mengajak peserta merefleksikan kembali semangat perjuangan Bung Karno agar tetap relevan di era kemajuan teknologi.
“Semangat Bung Karno sangat besar, tapi realita sekarang seperti ini. Saya ingin mengajak bagaimana membawa semangat Bung Karno dengan keberadaan teknologi yang saat ini berdiri,” ujar Subekti.
Menurutnya, perkembangan teknologi seharusnya tidak menjauhkan generasi muda dari nilai kebangsaan, melainkan menjadi sarana memperkuat implementasi Pancasila.
Sesi kedua dilanjutkan oleh Trisnadi Marjan dengan tema “Dari Ideologi Pancasila ke Visual Storytelling Melalui Foto Jurnalistik”. Selain memamerkan karya-karyanya, Trisnadi menekankan pentingnya etika dalam proses pengambilan dan publikasi foto.
“Foto jurnalistik itu tidak harus melulu kegiatannya difoto, bisa melalui potongan-potongan foto saja yang bisa tersirat,” jelas Trisnadi.
Ia juga mendorong peserta agar lebih peka menangkap momen yang bernilai berita dan mengandung pesan sosial yang kuat bagi masyarakat.
Melalui seminar interaktif ini, Warta 17 Agustus berharap dapat memantik pemahaman generasi muda mengenai nilai Pancasila, sekaligus mendorong pemanfaatan fotografi sebagai media edukasi kebangsaan di era digital. (Dini)