UKM Fordimapelar Ajak Mahasiswa Kritis Tanggapi Isu Kebebasan Berpendapat

  • 10 April 2026
  • 95

Kebebasan berpendapat menjadi salah satu pilar penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, di tengah dinamika sosial yang terus berkembang, ruang untuk menyuarakan kritik kerap dihadapkan pada berbagai risiko. Kondisi ini mendorong mahasiswa tidak hanya berani bersuara, tetapi juga memahami batas serta konsekuensi dari setiap pendapat yang disampaikan.


Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fordimapelar Untag Surabaya sukses menggelar Forum Group Discussion (FGD) perdana bertajuk Nalartime pada Rabu (8/4/26) di Selasar Plaza Proklamasi Untag Surabaya. Kegiatan ini terbuka untuk umum sebagai ruang refleksi kritis mahasiswa.


Diskusi mengangkat tema “Adrie Yunus: Dari Kritik Keras Jadi Air Keras” tentang batas kebebasan berpendapat di kalangan mahasiswa. Tema tersebut dipilih karena relevan dengan isu yang tengah berkembang di masyarakat.


Dosen FISIP Untag Surabaya, Moh. Dey Prayogo, S.I.Kom., M.I.Kom., hadir sebagai pembicara utama. Ia membedah batas kebebasan berpendapat, menyoroti fenomena supremasi sipil, serta mengulas dilema antara keberanian bersuara dan risiko yang menyertainya.


Ketua Pelaksana Nalartime, M. Faruk Rohmat Anas, menjelaskan kegiatan ini merupakan inisiasi Divisi Penalaran yang bertujuan menumbuhkan kembali daya kritis mahasiswa. Menurutnya, kemampuan analisis menjadi hal penting di tengah maraknya arus informasi yang tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan.


 “Kemampuan analisis sangat dibutuhkan mahasiswa saat ini. Tujuannya agar mereka lebih selektif menyaring informasi di tengah maraknya berita palsu atau hoaks,” jelasnya (8/4/26)


Faruk menambahkan, pemilihan tema Adrie Yunus didasari oleh isu yang sedang hangat di masyarakat. Ia menyebut Adrie Yunus sebagai aktivis vokal yang menyuarakan pendapat, sementara hak tersebut dijamin oleh undang-undang.


“Adrie Yunus adalah aktivis vokal yang menyuarakan pendapat, padahal hak menyuarakan pendapat dijamin undang-undang,” tambah Faruk


Ia juga berharap Nalartime dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa ke depannya serta menjadi ruang yang mendorong keberanian berpikir kritis tanpa rasa takut.


“Nalartime diharapkan dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa ke depannya. Ia ingin kegiatan ini menjadi ruang yang mendorong keberanian berpikir kritis tanpa rasa takut,” imbuhnya


Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam diskusi. Salah satunya disampaikan Aprilia Putri Nabila, mahasiswa Administrasi Negara, yang menilai topik ini sangat krusial karena berkaitan dengan hak fundamental dalam berdemokrasi.


Aprilia menyoroti ironi dalam praktik kebebasan berpendapat saat ini. Ia menyayangkan perlakuan kurang adil terhadap individu yang menyuarakan aspirasi publik, padahal seharusnya mendapat perlindungan.


“Acara ini memperkuat pemahaman bahwa kita berhak menyuarakan pendapat. Selama itu baik dan mengkritisi hal yang merugikan masyarakat, kita harus berani bersuara,” jelas Aprilia.


Aprilia juga berharap episode Nalartime selanjutnya dapat mengeksplorasi topik yang lebih luas dan beragam.


“Semoga diskusi seperti ini tidak hanya selalu berpusat pada isu politik. Potensi lain seperti kekayaan alam, lingkungan, dan pariwisata Indonesia juga sangat menarik untuk dibedah,” tutup Aprilia (Ivan)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\