Sebanyak 70 siswi kelas 7 dan 8 SMP 17 Agustus 1945 (SMPTAG) Surabaya menampilkan Tari Abyor secara massal untuk menyemarakkan Bulan Bung Karno. Kegiatan ini menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus pengembangan minat dan bakat siswa di bidang seni tari.
Tari massal yang berlangsung di lapangan sekolah pada Jumat (29/5) tersebut menampilkan Tari Abyor, tari kreasi dari Sanggar Kembang Sore. Para siswi tampil kompak mengenakan kaos hitam dan celana olahraga merah khas SMPTAG Surabaya.
Penampilan yang berlangsung meriah itu menjadi salah satu rangkaian kegiatan fisik yang diselenggarakan sekolah menjelang Ujian Akhir Semester (UAS). Tidak hanya siswa, sejumlah guru hingga Kepala Sekolah SMPTAG Surabaya juga turut berpartisipasi dengan bergabung dalam tarian. Kekompakan antara guru dan siswa semakin menambah semarak kegiatan sekaligus menciptakan suasana kebersamaan di lingkungan sekolah.
Guru Seni Budaya SMPTAG Surabaya, Rahayu Wijiasih, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan karena sebagian besar materi pembelajaran telah selesai. Menjelang UAS, sekolah mengisi waktu dengan aktivitas yang melibatkan gerak fisik sekaligus pembelajaran karakter.
“Kegiatan hari ini dilaksanakan karena sudah mendekati UAS, jadi kalau pelajaran sudah selesai materinya, akan diisi dengan kegiatan fisik dan pengembangan karakter,” ujarnya (29/5)
Sebelum tari massal dimulai, siswa terlebih dahulu mengikuti Senam Indonesia Sehat, poco-poco, dan kewer-kewer. Setelah penampilan tari selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah.
Menurut Rahayu, tari massal merupakan bentuk apresiasi sekolah terhadap minat dan bakat siswa di bidang seni. Selain memiliki ekstrakurikuler tari modern, SMPTAG Surabaya juga terus mendorong siswa untuk mempelajari tari tradisional sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya daerah.
Persiapan kegiatan dilakukan selama dua minggu dengan sistem latihan bergantian pada jam pelajaran tertentu. Setelah itu, siswa mengikuti latihan gabungan untuk menyatukan gerakan dan membangun kekompakan dalam menari.
Dalam proses latihan, sekolah menerapkan metode tari sebaya, yakni siswa saling mengajarkan gerakan tari kepada teman-temannya. Metode tersebut diterapkan agar siswa dapat lebih mudah beradaptasi sekaligus mempererat hubungan antarkelas.
“Harapannya untuk anak-anak Indonesia, baik perempuan maupun laki-laki, dapat melestarikan budaya khususnya bidang tari dengan cara belajar menari,” tambah Rahayu.
Melalui tari massal tersebut, SMPTAG Surabaya mengajak siswa mengenal dan melestarikan budaya Indonesia sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa. (Dini)