Generasi Z tidak lagi dipandang sekadar sebagai konsumen di era digital. Dengan kreativitas, kedekatan terhadap teknologi, dan karakter inovatif yang dimiliki, mereka dinilai mampu menjadi penggerak lahirnya wirausaha yang berdaya saing sekaligus berkelanjutan di sektor ekonomi kreatif.
Gagasan tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Seminar Economic Development 2026 bertema "Peran Gen-Z dalam Inovasi Subsektor Ekonomi Kreatif untuk Mewujudkan Wirausaha Berdaya Saing dan Berkelanjutan" yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan (HIMAEP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untag Surabaya. Seminar berlangsung pada Selasa (23/6), di Auditorium Lantai 6 Gedung R. Ing Soekonjono Untag Surabaya.
Seminar yang terbuka bagi mahasiswa dan masyarakat umum ini dihadiri Dekan FEB Untag Surabaya, Prof. Dr. Tri Ratnawati, M.S., Ak., CA., CPA., Ketua Program Studi (Kaprodi) Ekonomi Pembangunan, Dr. Arga Kristian Sitohang, S.E., M.M., serta menghadirkan tiga narasumber, yakni H. Lilik Hendarwati, S.Ak., M.HP., Anjik Sudiyantoro, S.H., M.M., dan Mochamad Masykur, Drs.Ec. Kegiatan dipandu moderator Zulfikri Charis Darmawan, S.E., M.Si.
Dalam sambutannya, Kaprodi Ekonomi Pembangunan, Dr. Arga Kristian Sitohang, S.E., M.M., berharap seminar tersebut dapat memperluas wawasan sekaligus menginspirasi peserta mengenai peran strategis Generasi Z dalam mengembangkan berbagai subsektor ekonomi kreatif, mulai dari kuliner, fesyen, kriya digital, hingga industri kreatif berbasis teknologi.
"Melalui seminar ini kami berharap peserta memperoleh wawasan dan inspirasi mengenai bagaimana Gen Z dapat mengambil peran strategis dalam mengembangkan berbagai subsektor ekonomi kreatif," ujarnya (23/6)
Senada dengan itu, Ketua Pelaksana Seminar, Ahmad Hamdallah, menyampaikan bahwa Generasi Z memiliki kedekatan dengan teknologi serta kreativitas yang menjadi modal besar untuk membangun usaha yang kompetitif tanpa mengabaikan budaya dan keberlanjutan lingkungan.
Pada sesi materi, H. Lilik Hendarwati menjelaskan bahwa posisi Generasi Z dalam ekonomi digital telah berubah secara signifikan. Menurutnya, Gen Z kini bukan lagi sekadar pengguna produk, melainkan pihak yang mampu menentukan arah pasar melalui perilaku konsumsi dan aktivitas digital mereka.
“Gen Z adalah pencipta pasar, bukan hanya konsumen platform,” tegasnya.
Ia menambahkan, berbagai perusahaan kini menjadikan perilaku Gen Z sebagai acuan dalam merancang produk, menyusun strategi pemasaran, hingga menghadirkan inovasi bisnis. Karena itu, generasi muda didorong untuk memanfaatkan teknologi dan kreativitas sebagai peluang menciptakan nilai ekonomi baru.
Pada sesi berikutnya, Anjik Sudiyantoro memaparkan berbagai upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam membangun ekosistem kewirausahaan bagi generasi muda melalui pelatihan, pendampingan, literasi digital, hingga penguatan inovasi berbasis teknologi. Menurutnya, upaya tersebut diharapkan mampu melahirkan inovator muda yang dapat membangun usaha berkelanjutan dan berdaya saing.
Ia juga mendorong mahasiswa agar berani memulai usaha meskipun harus menghadapi berbagai tantangan.
"Jangan takut memulai usaha dan jangan takut gagal. Dari kegagalan itulah pembelajaran akan diperoleh," ujarnya.
Sebagai penutup, praktisi bisnis Mochamad Masykur mengingatkan bahwa keberhasilan seorang wirausahawan tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal. Mental yang kuat, kemampuan melihat peluang, keberanian mengambil risiko, serta kemauan untuk terus belajar dari setiap tantangan juga menjadi faktor penting dalam membangun bisnis.
Melalui seminar ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan mengenai peluang ekonomi kreatif, tetapi juga dorongan untuk memanfaatkan teknologi, memperkuat inovasi, serta membangun usaha yang kompetitif dan berkelanjutan demi memberikan dampak positif bagi masyarakat maupun pembangunan ekonomi Indonesia. (Dini)