RUAS Psikologi 2026 Bahas Tekanan Social Comparison di Kalangan Mahasiswa

  • 01 Juni 2026
  • 29

Perbincangan mengenai standar kesuksesan dan tekanan untuk “terlihat berhasil” di usia muda menjadi topik yang dekat dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Fenomena tersebut dibahas dalam RUAS 2026 (Ruang Kelas Kastrat) yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi Untag Surabaya melalui ruang diskusi interaktif bersama mahasiswa.


Kegiatan bertema “Sukses Versi Siapa?” tersebut dilaksanakan di Selasar Gedung Rektorat Lt. 1 Untag Surabaya, Senin (25/5/26). Forum diskusi yang dikemas dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) itu menghadirkan dosen Psikologi, Salsabila Ratu Kencana Syaharani, S.Psi., M.Psi., sebagai pemantik diskusi mengenai fenomena social comparison dan tekanan standar kesuksesan di lingkungan sosial.


Dalam pemaparannya, Salsabila menjelaskan bahwa pandangan seseorang mengenai kesuksesan dapat berubah seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup. Menurutnya, media sosial turut memengaruhi cara mahasiswa memandang pencapaian diri karena paparan keberhasilan orang lain kerap membuat seseorang merasa tertinggal dan membandingkan dirinya dengan orang lain.


“Standar terhadap kesuksesan juga biasanya muncul dari media sosial, dari apa yang kita lihat tanpa memperhatikan preferensi pribadi masing-masing. Aku sudah umur segini, tapi kok mereka sudah segitu,” ujarnya (25/5)


Meski demikian, Salsabila menjelaskan bahwa social comparison tidak selalu berdampak negatif. Ia menyebut perbandingan sosial juga dapat diarahkan menjadi motivasi untuk mengenali potensi dan keunikan diri sendiri.


“Kalau sudah seperti ini kita bisa melakukan social compare yang dapat membuat kita termotivasi, ide-ide lebih muncul, dan jadi lebih tahu keunikan diri sendiri. Jadi social comparison ini tidak hanya straight negatif bagi kita, tapi bisa juga diarahkan ke hal yang positif,” jelasnya


Diskusi berlangsung interaktif dengan peserta yang aktif menyampaikan pandangan pribadi mengenai makna sukses. Salah satu peserta menanyakan alasan masih banyak orang tua yang menganggap mahasiswa perguruan tinggi negeri lebih sukses dibanding mahasiswa perguruan tinggi swasta.


Menanggapi hal tersebut, Salsabila menyebut pandangan tersebut dipengaruhi oleh persepsi sosial yang telah berkembang secara turun-temurun di masyarakat.


“Ini karena persepsi masyarakat yang sudah turun-temurun, persepsi sosial yang sudah ditanam,” ungkapnya.


Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa mahasiswa perlu melihat konsep kesuksesan dari berbagai sudut pandang, termasuk dari perspektif diri sendiri dan lingkungan sosial. Menurutnya, pemahaman tersebut penting agar seseorang tidak hanya mengikuti standar kesuksesan yang dibentuk masyarakat.


“Psikologi diajari untuk melihat dari berbagai sudut pandang. Kalau kesuksesan menurut saya seperti ini, menurut konstruk sosial atau masyarakat di lingkungan seperti ini, lantas kesuksesan yang cocok bagiku itu seperti apa sih?” tuturnya.


Melalui kegiatan ini, BEM Fakultas Psikologi Untag Surabaya mendorong mahasiswa untuk memahami makna kesuksesan berdasarkan nilai dan tujuan hidup masing-masing tanpa terjebak tekanan perbandingan sosial di era digital. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id