Indonesia bersiap memasuki babak baru industri otomotif melalui pengembangan mobil berbahan bakar etanol. Langkah ini dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang melimpah.

Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif. “Kita sudah punya teknologinya, bahan bakunya ada di tanah kita sendiri. Ini jalan kita menuju ketahanan energi,” ujarnya dalam rilis resmi, April 2026.

Pengembangan kendaraan etanol juga didukung kesiapan industri nasional. PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia disebut telah memproduksi mesin yang mampu menggunakan campuran etanol 20 persen (E20). Bahkan, mesin serupa telah diekspor ke Brasil yang menggunakan standar campuran etanol lebih tinggi, yakni E27.

Di sektor energi, Pertamina lebih dulu memasarkan Pertamax Green 95 dengan campuran etanol 5 persen (E5). Produk ini menjadi langkah awal menuju penggunaan bioetanol yang lebih luas. Bahan baku seperti tebu, singkong, dan jagung dinilai menjadi keunggulan Indonesia karena tersedia dalam jumlah besar dan dapat dikembangkan dari sektor pertanian domestik.

Meski masih muncul anggapan bahwa etanol dapat menyebabkan mesin brebet, para pemangku kepentingan menilai bahan bakar yang telah memenuhi standar tetap aman digunakan pada kendaraan yang sesuai spesifikasi. Dengan dukungan teknologi, industri, dan pasokan bahan baku lokal, Indonesia dinilai memiliki peluang besar membangun sistem energi yang lebih stabil, mandiri, dan ramah lingkungan. (Ivan)