Keselamatan ibu dan bayi dalam situasi persalinan darurat menjadi fokus utama penelitian yang mengantarkan Tiwuk Herawati, S.Kep., Ns., M.H. meraih gelar Doktor Ilmu Hukum di Untag Surabaya. Ia menjalani Ujian Terbuka Doktor Ilmu Hukum (DIH) pada Jumat (5/6/26) di Meeting Room Graha Wiyata Lt.1 Untag Surabaya.
Dalam disertasinya, Tiwuk mengangkat permasalahan mengenai pengaturan waktu tanggap darurat operasi sesar (sectio caesarea emergency response time) dalam sistem hukum kesehatan di Indonesia. Menurutnya, meskipun Indonesia telah memiliki berbagai regulasi kesehatan, pengaturan mengenai waktu tanggap darurat operasi sesar masih tersebar di berbagai aturan dan belum terintegrasi secara operasional.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum bagi pasien, tenaga medis, maupun rumah sakit. Ketidakjelasan pengaturan juga dapat memunculkan perbedaan interpretasi mengenai batas tanggung jawab tenaga medis dan institusi pelayanan kesehatan.
“Keterlambatan tindakan dapat meningkatkan risiko hipoksia janin, asfiksia lahir, perdarahan maternal, ruptur uteri, hingga kematian ibu dan bayi. Ketidakjelasan pengaturan menyebabkan perbedaan interpretasi mengenai batas tanggung jawab tenaga medis dan rumah sakit,” jelas Tiwuk saat memaparkan hasil penelitiannya (5/6)
Berangkat dari persoalan tersebut, Tiwuk menawarkan sebuah kebaruan (novelty) melalui penelitian hukum normatif yang dilakukannya. Ia merumuskan model pengaturan baru bernama Integrated Emergency Response Time Legal System Model (IERT-LSM).
Model tersebut mengintegrasikan enam komponen utama, yakni klasifikasi triase obstetri, kesiapsiagaan pelayanan, koordinasi multidisiplin, integrasi data real-time, audit klinis, serta penguatan imunitas hukum bagi tenaga medis dalam situasi darurat. Melalui model ini, waktu tanggap darurat tidak lagi dipandang sebagai ukuran kaku yang berpotensi menghukum tenaga medis, melainkan sebagai sistem yang adaptif dan berorientasi pada keselamatan pasien (patient safety approach).
Kehadiran model tersebut diharapkan mampu memperkuat tata kelola pelayanan persalinan darurat sekaligus memberikan kepastian hukum bagi tenaga kesehatan dan institusi pelayanan kesehatan.
Di balik keberhasilan mempertahankan disertasinya, Tiwuk mengaku memperoleh banyak pelajaran berharga selama menempuh pendidikan doktoral di Untag Surabaya, terutama mengenai pentingnya kerendahan hati dalam menuntut ilmu.
“Pelajaran terbesar bagi saya adalah semakin banyak saya belajar, semakin saya menyadari bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang dan selalu ada ruang untuk belajar. Proses disertasi mengajarkan ketekunan, kesabaran, konsistensi, dan keberanian mempertahankan argumentasi ilmiah berdasarkan data, teori, dan logika yang dapat dipertanggungjawabkan,” ungkap Tiwuk.
Ia berharap hasil penelitiannya tidak hanya menjadi dokumen akademik yang tersimpan di perpustakaan, tetapi juga dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pengembangan keilmuan hukum kesehatan.
“Harapan saya penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan keselamatan ibu dan bayi melalui pelayanan seksio-sesaria emergensi yang lebih cepat, terukur, dan berkualitas. Bagi dunia akademik, saya berharap penelitian ini dapat memperkaya kajian hukum kesehatan, khususnya mengenai hubungan antara keselamatan pasien, kegawatdaruratan medis, dan pengaturan hukum pelayanan kesehatan,” tutupnya
Melalui disertasinya, Tiwuk juga merekomendasikan perlunya penguatan regulasi oleh pemerintah serta peningkatan sistem kesiapsiagaan di rumah sakit. Langkah tersebut dinilai penting untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang aman, responsif, profesional, dan akuntabel di Indonesia. (Febe)