People Pleaser itu Baik Hati atau Takut Ditolak?

  • 06 Maret 2026
  • 118

Dalam praktik psikologi klinis dan interaksi dengan banyak individu, terdapat satu fenomena yang terus berulang dan menarik perhatian, yakni perilaku people pleaser. Dari sudut pandang psikologis, ini bukan sekadar pola kepribadian yang sederhana. Ia adalah kondisi ketika seseorang sangat sulit menolak, cenderung bergantung pada orang lain, dan kerap diliputi perasaan tidak enak atau sungkan yang berlebihan.


Di balik perilaku “selalu ingin menyenangkan” itu, tersimpan dinamika psikologis yang lebih dalam. Pola ini sering kali telah mengakar sejak masa kanak-kanak, berhubungan dengan pola asuh tertentu atau bahkan pengalaman traumatik.


Satu pola emosional yang sangat terlihat adalah ketika mereka dihadapkan pada situasi yang mengharuskan berkata "tidak", perasaan yang mendominasi justru adalah rasa bersalah. Mereka dilumpuhkan oleh ketakutan bahwa penolakan akan berujung pada penolakan balik atau ketakutan ditinggalkan oleh orang di sekitarnya.


People Pleaser vs Jiwa Altruis


Perbedaan mendasarnya terletak pada motif. Seseorang yang altruis menolong karena dorongan tulus dari dalam diri. Sebaliknya, people pleaser melakukan sesuatu untuk orang lain karena ketakutan, takut ditinggalkan, takut tidak disukai, atau takut ditolak. Kebaikan mereka seringkali menjadi tameng untuk melindungi diri dari perasaan tidak aman. Hal ini menjadi sangat krusial, terutama ketika berbicara tentang mahasiswa yang sedang berada pada fase pencarian jati diri.


Menjadi people pleaser adalah hambatan besar dalam proses tersebut. Kondisi ini membuat mereka sulit mengambil keputusan dan kehilangan keyakinan pada diri sendiri. Kemandirian mereka terhambat karena terus-menerus menggantungkan arah hidup pada persetujuan dan keputusan orang lain, bukan untuk mencapai tujuan pribadinya.


Kenali Diri Sendiri dan Atur Pola


Pesan klinis bagi yang merasa terjebak dalam pola people pleaser adalah sadarilah bahwa kondisi ini bukan hal wajar. Kebiasaan ini perlahan akan merugikan diri sendiri.


Menjadi versi terbaik dari diri sendiri jauh lebih penting dan efektif, bahkan jika tujuannya adalah membantu orang lain. Anda tidak bisa benar-benar membantu orang lain jika belum selesai dengan diri sendiri. Selesaikan urusan di dalam diri, kenali potensi, terima kelemahan dan kelebihan, barulah bisa memberikan dampak positif yang nyata bagi lingkungan sekitar.


Sering muncul pembenaran, "Bukankah dengan menyenangkan orang lain, kita mencapai prestasi karena sudah menolong?" Secara psikologis, ini justru merugikan. People pleaser sangat rentan dimanfaatkan. Waktu dan energi habis untuk memuaskan ekspektasi orang lain. Ketika menyadari bahwa diri sendiri tidak berkembang karena seluruh keputusan disetir oleh pihak luar, yang tersisa hanyalah penyesalan. Lebih parah lagi, people pleaser sering menarik masalah dan beban orang lain ke dalam hidupnya. Mereka selalu merasa bersalah dan mudah meminta maaf untuk sesuatu yang bahkan bukan kesalahannya.


Menolak dengan Sopan


Bagaimana jika yang harus ditolak adalah permintaan orang lebih tua atau senior, dalam konteks hierarki sosial dan usia? Penolakan bukan hal yang dilarang. Seninya terletak pada cara menolak. Penolakan yang baik dan sopan disertai solusi. Jangan biarkan penolakan berhenti sebagai kata "tidak". Jadikan itu jembatan yang menawarkan alternatif lain bagi permintaan yang datang. Dengan begitu, hierarki tetap dihargai tanpa mengorbankan batasan dan kesejahteraan diri sendiri. (Aura)


*) Ricky Alejandro Martin, S.Psi., M.Psi., Psikolog Kepala Lab Psikodiagnostik Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya



https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id

\