Penulisan Ulang Sejarah Jadi Sorotan, Dosen MKU Bahas Risiko Hilangnya Fakta

  • 03 Juni 2026
  • 8

Sejarah tidak selalu hadir melalui buku pelajaran atau arsip resmi. Karya sastra juga dapat menjadi cara untuk memahami berbagai peristiwa bangsa sekaligus melihat bagaimana narasi sejarah dibentuk dan diperdebatkan.


Unit Mata Kuliah Umum (MKU) Untag Surabaya menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Politisasi Wacana Sejarah Bangsa: Membaca Indonesia dalam Karya Sastra”. Kegiatan ini menghadirkan Drs. Jupriono, M.Si., dosen MKU Bahasa Indonesia, sebagai pemantik diskusi dan diikuti seluruh dosen MKU Untag Surabaya serta perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).


FGD yang berlangsung di Ruang Baca Perpustakaan Lt.3 Graha Wiyata Untag Surabaya pada Senin (26/5/26) tersebut menjadi ruang diskusi akademik untuk membangun pemahaman kritis mahasiswa terhadap sejarah bangsa yang kerap direpresentasikan melalui karya sastra dan berbagai narasi sosial di masyarakat.


Dalam pemaparannya, Jupriono menyoroti kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan penghilangan fakta sejarah tertentu dalam penulisan ulang sejarah Indonesia, khususnya terkait tragedi 1998. Menurutnya, sejarah kerap direkayasa atau dipalsukan sesuai kepentingan penguasa sehingga generasi muda berpotensi kehilangan pemahaman terhadap fakta sejarah yang sebenarnya.


“Sejarah terus menerus direkayasa bahkan dipalsukan sementara generasi muda tidak akan tahu itu. Maka dari itu pembicaraan ini mengajak kaum muda untuk melihat fakta sejarah, karena kalau fakta itu dibaca oleh penguasa tentu sangat tidak imbang dan sesuai dengan selera mereka,” ujarnya (26/5)


Ia juga menjelaskan bahwa karya sastra dapat menjadi media alternatif untuk membaca realitas sejarah secara lebih kritis. Sastra dinilai mampu menghadirkan suara masyarakat yang selama ini kurang mendapat ruang dalam narasi sejarah resmi.


Suasana diskusi berlangsung interaktif. Peserta aktif menyimak materi dan mengajukan pertanyaan mengenai hubungan antara sastra, kekuasaan, dan pembentukan narasi sejarah di Indonesia.


Melalui kegiatan tersebut, Jupriono berharap diskusi mengenai sejarah bangsa dapat terus dilanjutkan dan menjangkau masyarakat yang lebih luas. Ia menilai sastra dapat menjadi media bagi masyarakat untuk menyuarakan perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan.


“Harapan ke depannya ada diskusi yang diteruskan dan dikhususkan kepada masyarakat, sehingga rakyat dapat menggunakan sastra sebagai media untuk melawan penindasan dan ketidakadilan dari penguasa,” tutupnya.


Melalui forum ini, MKU Untag Surabaya menegaskan komitmennya dalam menghadirkan ruang akademik yang responsif terhadap isu-isu aktual sekaligus mendorong peserta memandang berbagai peristiwa bangsa secara lebih kritis dan reflektif. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id