Keputusan mengejutkan diambil oleh OpenAI dengan menghentikan layanan Sora, platform kecerdasan buatan (AI) pembuat video berbasis teks, hanya enam bulan setelah diluncurkan.
Padahal, teknologi ini sebelumnya digadang-gadang sebagai masa depan industri kreatif digital karena mampu menghasilkan video realistis dari perintah teks dan sempat menarik perhatian global.
Mengutip laporan CNN News, penghentian layanan tersebut dipicu oleh sejumlah faktor utama. Sora dinilai belum memberikan keuntungan signifikan serta memiliki jumlah pengguna yang terbatas.
Selain itu, dari sisi teknis, proses pembuatan video dinilai sangat kompleks dan membutuhkan sumber daya komputasi yang jauh lebih besar dibandingkan AI berbasis teks atau gambar. Hal ini menyebabkan biaya infrastruktur meningkat tajam dan tidak sebanding dengan pendapatan yang dihasilkan.
Minat pengguna juga dilaporkan menurun setelah fase awal popularitasnya. Meskipun sempat viral, adopsi teknologi video berbasis AI belum cukup kuat untuk mempertahankan penggunaan dalam jangka panjang.
Di sisi lain, tantangan etika turut menjadi perhatian. Teknologi ini berpotensi disalahgunakan untuk membuat konten deepfake, menyebarkan informasi palsu, hingga melanggar hak cipta. Proses moderasi konten pun semakin sulit karena hasil video yang dihasilkan terlihat sangat realistis.
Penutupan Sora tidak sekadar penghentian produk, melainkan bagian dari strategi jangka panjang OpenAI dalam menghadapi persaingan industri AI global. Perusahaan kini disebut lebih fokus pada efisiensi serta pengembangan teknologi yang lebih scalable dan berkelanjutan.
Langkah ini menegaskan bahwa dalam industri kecerdasan buatan, kecanggihan teknologi saja tidak cukup. Keberhasilan juga ditentukan oleh aspek ekonomi, tingkat adopsi pengguna, serta kesiapan menghadapi tantangan etika di era digital. (Dini)