Narkotika Tidak Selalu Datang dengan Wajah Menakutkan

  • 01 Juli 2026
  • 14

Kesalahan terbesar masyarakat adalah menganggap narkotika selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Faktanya, ancaman terbesar justru datang ketika ia menyamar sebagai ajakan berteman, bentuk kepedulian, atau solusi instan untuk mengatasi stres, kelelahan, dan tekanan hidup. Saat seseorang menyadarinya, tidak sedikit yang sudah terlanjur terjebak dalam lingkaran ketergantungan.


Inilah yang membuat narkotika menjadi ancaman yang jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan. Targetnya bukan hanya orang dewasa atau mereka yang memiliki masalah berat dalam hidup. Mahasiswa, pelajar, anak muda berprestasi, hingga mereka yang berasal dari keluarga sederhana maupun berkecukupan memiliki risiko yang sama. Tidak ada kelompok yang benar-benar kebal apabila lengah.


Ketergantungan Berawal dari Hal yang Dianggap Sepele


Salah satu pola yang sering ditemukan adalah tawaran yang diawali dengan alasan sederhana. Ada yang mengaku tidak bisa tidur, sedang stres mengerjakan tugas, mengalami tekanan hidup, atau sekadar ingin mencoba sesuatu yang dianggap dapat membuat lebih rileks. Tawaran itu sering diberikan secara cuma-cuma pada awalnya sehingga banyak orang merasa tidak ada salahnya mencoba sekali. Padahal, di situlah proses ketergantungan mulai terbentuk.


Secara medis, hampir semua jenis narkotika memiliki efek adiktif. Ketika seseorang mulai menggunakannya, tubuh akan terbiasa dengan zat tersebut. Akibatnya, dosis harus terus ditingkatkan untuk memperoleh sensasi yang sama. Semakin tinggi dosis yang digunakan, semakin besar pula risiko gangguan fisik maupun psikologis, mulai dari kecemasan, gelisah, jantung berdebar, hingga kerusakan organ yang lebih serius.


Yang lebih memprihatinkan, bentuk narkotika terus berkembang. Tidak lagi hanya berupa pil atau serbuk, tetapi juga dapat disamarkan dalam bentuk cairan, rokok elektronik (vape), maupun produk lain yang tampak seperti barang sehari-hari. Kondisi ini membuat masyarakat harus semakin waspada karena ancamannya tidak selalu mudah dikenali.


Belajar dari Kisah Nyata


Dalam praktik penanganan kasus penyalahgunaan narkotika, sering dijumpai kisah yang menyimpan pelajaran penting. Salah satunya adalah seorang mahasiswi yang awalnya hanya mengalami gangguan tidur. Saat mengerjakan tugas di sebuah kafe, ia berkenalan dengan sekelompok orang yang menawarkan rokok dengan alasan dapat membantu tidur lebih nyenyak. Mereka tidak tampak mencurigakan. Berpakaian rapi, ramah, dan terlihat seperti mahasiswa pada umumnya.


Berawal dari satu kali mencoba, perlahan muncul ketergantungan hingga uang sakunya terus habis untuk membeli barang tersebut. Beruntung, keluarganya segera menyadari perubahan yang terjadi. Melalui pemeriksaan, rehabilitasi, dan pendampingan bersama tim dokter serta psikiater, mahasiswi tersebut berhasil pulih dan akhirnya mampu menyelesaikan pendidikannya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pertolongan yang datang lebih awal dapat menyelamatkan masa depan seseorang.


Namun, tidak semua kisah berakhir seperti itu. Ada pasien yang datang setelah bertahun-tahun menggunakan narkotika suntik hingga mengalami infeksi HIV. Sebagian kehilangan kesempatan menyelesaikan pendidikan, kehilangan pekerjaan, bahkan kehilangan nyawa akibat komplikasi penyakit yang ditimbulkan. Pada tahap tersebut, proses pemulihan menjadi jauh lebih panjang, melelahkan, dan membutuhkan komitmen yang sangat besar.


Penyalahgunaan Narkotika Bukan Sekadar Persoalan Moral


Hal yang juga perlu dipahami adalah bahwa penyalahgunaan narkotika bukan semata-mata persoalan moral. Banyak pengguna berawal dari rasa kesepian, tekanan hidup, keluarga yang kurang harmonis, atau minimnya tempat untuk bercerita. Kondisi tersebut membuat sebagian orang mencari pelarian yang justru berujung pada ketergantungan.


Karena itu, pendekatan yang dibutuhkan tidak cukup hanya berupa hukuman. Edukasi, pendampingan, rehabilitasi, serta dukungan keluarga merupakan bagian penting dalam proses pencegahan maupun pemulihan.


Peran keluarga dan lingkungan menjadi benteng pertama yang tidak tergantikan. Perubahan perilaku sekecil apa pun seharusnya tidak diabaikan. Ketika seseorang yang biasanya ceria tiba-tiba menjadi mudah marah, menarik diri dari lingkungan, mengalami gangguan tidur, atau menunjukkan perubahan kebiasaan yang drastis, kondisi tersebut perlu ditanyakan dengan empati, bukan dihakimi. Terkadang, perhatian sederhana justru menjadi langkah awal yang menyelamatkan seseorang dari lingkaran penyalahgunaan narkotika.


Berani Berkata Tidak dan Berani Meminta Pertolongan


Bagi mahasiswa, penting untuk memilih lingkungan pergaulan yang sehat. Bertemanlah dengan orang-orang yang mampu memberikan motivasi, mengembangkan potensi, dan mendorong pencapaian prestasi. Jangan pernah merasa takut untuk mengatakan "tidak" ketika ada ajakan yang berpotensi merusak masa depan. Tidak ada alasan untuk membuktikan keberanian dengan mencoba narkotika.


Apabila mengalami tekanan, kecemasan, atau gangguan psikologis, jangan mencari pelarian pada zat-zat berbahaya. Saat ini telah tersedia berbagai layanan kesehatan, mulai dari konseling, psikolog, psikiater, hingga pusat rehabilitasi yang siap membantu. Meminta pertolongan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk menyelamatkan diri.


Narkotika tidak hanya menghancurkan kesehatan fisik. Dampaknya menjalar hingga pendidikan, karier, hubungan keluarga, masa depan, bahkan harapan orang-orang yang mencintai korbannya. Karena itu, kewaspadaan harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Jangan pernah memberi ruang bagi narkotika untuk masuk, sebab sekali terjerat, jalan untuk kembali sering kali jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan. Pencegahan akan selalu menjadi langkah terbaik untuk menjaga generasi muda tetap mampu meraih cita-cita dan masa depan yang lebih baik. (Dini)

*) dr. Edfina Rahmarini, Sp.N. Dokter Spesialis Saraf dan Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id