Mahasiswa Sastra Jepang Untag Surabaya Jalani Magang di Jepang

  • 31 Juli 2026
  • 14

Dua mahasiswa Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Leon Pratama Halim dan Yudan Renegara, menjalani program magang internasional di Bandara Internasional Narita, Jepang.


Program tersebut berlangsung selama satu tahun, mulai 1 Oktober 2025 hingga 30 September 2026. Kesempatan ini menjadi pengalaman berharga bagi keduanya untuk mengasah kemampuan bahasa Jepang, mengenal budaya kerja internasional, dan mempersiapkan diri memasuki dunia profesional.


Bagi Leon dan Yudan, belajar bahasa Jepang tidak berhenti di ruang kelas. Melalui program magang ini, keduanya dapat menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan dalam situasi kerja nyata.


Dalam program tersebut, Leon ditempatkan pada bagian cabin cleaning pesawat. Sementara itu, Yudan bertugas di bidang ground handling pada layanan kebersihan pesawat. Meski berada di unit berbeda, keduanya memiliki tanggung jawab yang sama, yakni memastikan kabin pesawat bersih, rapi, dan siap digunakan untuk penerbangan berikutnya.


Selama menjalani magang, Yudan tidak hanya bekerja bersama warga Jepang. Ia juga berinteraksi dengan rekan kerja dari berbagai negara. Lingkungan kerja tersebut memberinya kesempatan untuk mengenal budaya baru, bertukar pengalaman, dan membangun kerja sama dalam tim internasional.


“Yang berkesan bagi saya saat mengetahui kalau kami tidak hanya bekerja bersama orang Jepang, tetapi juga dengan rekan dari berbagai negara. Kami bisa berbagi budaya dan cerita, serta bekerja sama dalam tim yang kompak,” kata Yudan, Jumat (10/7/2026).


Menurut Yudan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa dunia kerja internasional tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis. Komunikasi, kerja sama, dan kemampuan beradaptasi menjadi hal penting ketika seseorang bekerja dengan orang-orang dari latar belakang budaya berbeda.


Sementara itu, bagi Leon, magang di Jepang menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan bahasa Jepang yang telah dipelajari selama kuliah. Ia ingin menggunakan bahasa Jepang tidak hanya dalam konteks akademik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari dan situasi profesional.


“Saya ingin mengembangkan kemampuan bahasa Jepang yang sudah saya pelajari selama kuliah dan mencoba menggunakannya dalam kehidupan serta dunia kerja secara langsung. Selain itu, saya juga ingin mengetahui budaya kerja orang Jepang, seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan cara mereka bekerja dalam sebuah tim,” ujar Leon.


Sebelum berangkat ke Jepang, Leon mengikuti sejumlah tahapan seleksi, mulai dari pendaftaran, seleksi administrasi, wawancara, hingga persiapan keberangkatan. Ia juga memperkuat kemampuan percakapan bahasa Jepang dan mempelajari kosakata yang berkaitan dengan pekerjaan.


Pemahaman mengenai budaya kerja Jepang turut menjadi bekal penting bagi Leon untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.


“Saya bertanggung jawab membersihkan bagian dalam kabin pesawat, meliputi kursi penumpang, meja lipat, area penyimpanan barang, dan lantai. Saya juga melakukan pengecekan perlengkapan untuk memastikan pesawat siap digunakan kembali,” jelasnya.


Pekerjaan tersebut menuntut ketelitian, kecepatan, dan kerja sama tim. Proses pembersihan dilakukan dalam waktu terbatas sehingga setiap anggota tim harus menjalankan tugas dengan tepat dan efisien.


Dari pengalaman itu, Leon mengenal standar kerja Jepang yang detail dan menjunjung profesionalisme. Ia sempat merasa gugup saat pertama kali bekerja karena harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sekaligus menggunakan bahasa Jepang dalam situasi kerja.


“Kesan pertama saya saat tiba di Jepang adalah kagum dengan lingkungan yang sangat tertib dan disiplin. Ketika mulai bekerja, saya cukup gugup karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan menggunakan bahasa Jepang dalam situasi kerja. Namun, dengan bantuan senior dan rekan kerja, saya perlahan mulai terbiasa,” kata Leon.


Bagi Leon, proses adaptasi menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama magang. Ia belajar menyesuaikan diri dengan standar kerja yang tinggi dan memahami penggunaan bahasa Jepang dalam konteks profesional yang berbeda dari pembelajaran di kelas.


Pengalaman magang tersebut turut mengasah berbagai keterampilan, mulai dari komunikasi, kerja sama tim, kedisiplinan, manajemen waktu, hingga kemampuan beradaptasi. Leon menyadari bahwa dunia kerja tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik, tetapi juga tanggung jawab dan profesionalisme.


Pembelajaran di Program Studi Sastra Jepang FIB Untag Surabaya menjadi bekal penting bagi keduanya. Kemampuan bahasa Jepang, pemahaman budaya, dan etika komunikasi yang diperoleh selama perkuliahan membantu mereka lebih siap menghadapi lingkungan kerja di Jepang.


“Pembelajaran dari Program Studi Sastra Jepang sangat membantu, terutama dalam kemampuan bahasa Jepang, pemahaman budaya Jepang, dan etika komunikasi. Walaupun dalam dunia kerja masih banyak hal baru yang harus dipelajari, ilmu yang didapat selama kuliah menjadi dasar untuk lebih mudah beradaptasi,” tutup Leon.


Magang internasional di Bandara Internasional Narita menjadi capaian penting bagi Leon dan Yudan sebagai mahasiswa Sastra Jepang Untag Surabaya. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk membangun kesiapan karier, memperluas wawasan global, dan mengembangkan kompetensi lintas budaya. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id