Sejarawan seni asal Belanda, Petra Timmer, mengungkap kuatnya jejak budaya Indonesia dalam perkembangan arsitektur modern hingga kehidupan masyarakat di negaranya saat menjadi pembicara dalam International Guest Lecture Regionalism Architecture: The World of Berlage yang diselenggarakan Program Studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Teknik Untag Surabaya.
Kegiatan kuliah tamu pada 18 Mei 2026 di Auditorium Lt. 6 Gedung R. Ing Soekonjono Untag Surabaya tersebut menghadirkan Petra Timmer, sejarawan seni, kurator, sekaligus peneliti independen asal Belanda yang tergabung dalam TiMe Amsterdam.
Selain Petra Timmer sebagai keynote speaker kedua, kegiatan ini juga menghadirkan Dr. Ir. Ar. Ibrahim Tohar, M.T., IAI., dosen Arsitektur Untag Surabaya sebagai keynote speaker pertama, dengan Ar. Yayan Indrayana, IAI., sebagai moderator.
Ketua Program Studi (Kaprodi) Arsitektur Untag Surabaya, Dr. Ar. Andarita Rolalisasi, S.T., M.T., IPM., IAI., dalam sambutannya menyampaikan harapannya agar perspektif internasional yang dibawa narasumber dapat membuka wawasan baru mahasiswa melalui diskusi yang bermakna.
"I confident that Petra Timmer with her international perspective from TiMe Amsterdam and Dr. Ibrahim Tohar with his deep understanding of Indonesian architecture will offer us brilliant insight and Mr. Yayan Indrayana will relate us through a lively and meaningful discussion," ujarnya (18/5)
Materi pertama disampaikan Dr. Ibrahim Tohar yang membahas pentingnya arsitek lokal memiliki kepedulian tinggi terhadap iklim nusantara, seperti memanfaatkan arah sinar matahari dan sirkulasi udara dalam proses perancangan bangunan.
Menurutnya, proses perencanaan ruang publik maupun bangunan adaptif tidak dapat dilakukan secara sepihak, melainkan harus melibatkan berbagai pihak agar tercipta rasa kepemilikan bersama terhadap ruang hidup masyarakat.
"Proses perencanaan ruang publik atau bangunan yang adaptif itu tidak boleh lagi dilakukan secara searah. Kita harus merancangnya secara kolaboratif bersama seluruh stakeholder (pemerintah kota, akademisi, hingga komunitas lokal) agar ada transfer knowledge dan rasa kepemilikan bersama terhadap ruang hidup tersebut,” jelas Dr. Ibrahim
Ia juga menekankan bahwa arsitektur masa kini harus mampu merespons tantangan nyata, mulai dari perubahan iklim global, mitigasi bencana, hingga konsep pembangunan berkelanjutan.
Sementara itu, Petra Timmer mengupas teori rasionalisme milik H.P. Berlage yang mengutamakan kejujuran material serta fungsi struktur bangunan, yang kemudian turut memengaruhi lahirnya arsitektur kolonial tropis.
Petra turut memaparkan bagaimana budaya Nusantara justru memberi warna kuat terhadap perkembangan arsitektur modern di Belanda. Ia menjelaskan bahwa gaya arsitektur Mazhab Amsterdam (Amsterdam School) pada dekade 1920-an sarat dengan sentuhan Indonesia.
Menurutnya, jejak tersebut dapat ditemukan dengan cukup jelas, khususnya di kawasan Amsterdam Selatan, apabila diamati secara saksama. Salah satu contoh yang paling kentara ialah penggunaan bentuk atap menyerupai lumbung padi Indonesia pada sejumlah rancangan bangunan di wilayah tersebut.
“And there is a lot of Indonesian influence in this Amsterdam school architectural style. If you go to Amsterdam South, you can see a lot of Indonesia if you want to know where to look at, then you see there is lumbung kind of roof. If you know how to look, you will recognize it,” jelasnya
Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta menanyakan apakah pengaruh budaya Indonesia di Belanda hanya terjadi dalam bidang arsitektur atau juga hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Belanda. Petra menjelaskan bahwa pengaruh Indonesia di Belanda sangat masif dan telah masuk hingga ke aspek budaya paling mendasar, termasuk kuliner. Bahkan, menurutnya, orang Belanda kerap menyebut Indonesia sebagai “Tanah Harapan” atau Land of Hopes.
Kegiatan kuliah tamu berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang membahas keterkaitan arsitektur, lingkungan, serta identitas budaya dalam perkembangan desain bangunan modern. Beragam perspektif yang disampaikan narasumber turut memperluas wawasan mahasiswa mengenai praktik arsitektur dalam konteks global. (Febe)