Kerja sama ekonomi Indonesia dan Jepang menguat pada 2026 setelah Forum Bisnis Indonesia - Jepang di Tokyo menghasilkan kesepakatan senilai US$23,63 miliar atau sekitar Rp401,71 triliun. Kolaborasi itu mencakup energi bersih, pengembangan industri, dan ekosistem teknologi.

Dalam forum yang disaksikan Presiden Prabowo Subianto pada 30 Maret 2026 itu, pelaku usaha kedua negara mengumumkan 10 nota kesepahaman dan perjanjian strategis. Bidang yang disepakati meliputi produksi metanol dari emisi karbon, pengembangan lapangan gas, panas bumi, investasi strategis, hingga penguatan ekosistem semikonduktor, desain chip elektronik, dan kecerdasan buatan.

Di sektor kesehatan, kerja sama Indonesia–Jepang juga terus berkembang. Kementerian Kesehatan menyebut Prefektur Mie siap menerima hingga 300 perawat Indonesia setiap tahun, disertai peluang pelatihan, pemagangan, dan penguatan kapasitas tenaga kesehatan. Langkah ini dinilai dapat membuka jalur kerja internasional sekaligus memperkaya pengalaman profesional tenaga medis Indonesia.

Sementara di bidang energi, pemerintah Indonesia dan Jepang memperkuat kolaborasi untuk mendorong transisi energi dan rantai pasok industri. Dalam pertemuan di Tokyo pada Maret 2026, Jepang menyatakan dukungan terhadap implementasi biodiesel B40 serta rencana pengembangan E20 pada 2028 sebagai bagian dari upaya penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.

Secara keseluruhan, kerja sama ini menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Jepang tidak hanya bertumpu pada investasi, tetapi juga pada penguatan sumber daya manusia, energi bersih, dan teknologi masa depan. Arah kolaborasi tersebut memberi sinyal bahwa kemitraan kedua negara semakin fokus pada sektor bernilai tambah yang berdampak langsung pada daya saing ekonomi Indonesia. (Ivan)