Setiap 20 Mei, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai momen penting lahirnya semangat persatuan dan perjuangan bangsa untuk bangkit dari penjajahan. Peringatan ini berawal dari berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908, yang menjadi tanda munculnya kesadaran baru masyarakat untuk maju melalui pendidikan, organisasi, dan persatuan.
Hari Kebangkitan Nasional lahir dari kondisi masyarakat yang saat itu hidup dalam tekanan penjajahan, keterbatasan akses pendidikan, serta kesenjangan sosial dan ekonomi. Kondisi tersebut mendorong tumbuhnya kesadaran akan pentingnya persatuan dan kemajuan bangsa. Pada masa itu, kebijakan Politik Etis juga melahirkan kelompok intelektual bumiputra yang mulai memiliki pandangan kritis terhadap kondisi sosial dan masa depan Indonesia.
Dilansir dari Detik.com, Hari Kebangkitan Nasional 2026 mengusung tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”. Tema tersebut dipilih untuk menumbuhkan semangat menjaga generasi muda sebagai fondasi pembangunan bangsa sekaligus memperkuat nilai persatuan, nasionalisme, dan kemajuan Indonesia.
Nilai-nilai Hari Kebangkitan Nasional dinilai masih relevan hingga saat ini, terutama dalam dunia pendidikan. Semangat untuk terus maju yang lahir pada masa itu kini diwujudkan melalui perluasan akses pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta dorongan bagi generasi muda untuk berkontribusi kepada masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Rektor Untag Surabaya, Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T., memaknai Hari Kebangkitan Nasional melalui tiga frasa utama yang relevan dengan dunia pendidikan.
“Ada tiga frasa utama, yaitu semangat bangkit, berdaya, dan berkontribusi,” katanya (13/5)
Menurutnya, semangat bangkit dimaknai sebagai dorongan bagi masyarakat untuk terus maju dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk persoalan akses pendidikan yang hingga kini masih dihadapi sebagian masyarakat.
“Dalam semangat bangkit, peran Untag Surabaya adalah memaksimalkan upaya dan menggandeng masyarakat agar dapat mengakses pendidikan. Upaya yang dilakukan Untag Surabaya misalnya melalui pemberian beasiswa sebagai salah satu cara membuka akses masyarakat ke pendidikan tinggi. Kami juga membuka aksesibilitas melalui kelas sore, rekognisi pembelajaran lampau, serta menganut asas keadilan. Mahasiswa berkebutuhan khusus juga kami buka aksesnya. Peran Untag adalah membuka aksesibilitas masyarakat untuk mengenyam pendidikan,” jelasnya.
Frasa kedua, yakni berdaya, dimaknai sebagai upaya meningkatkan kompetensi masyarakat agar memiliki daya saing sesuai kebutuhan zaman.
“Poinnya adalah bagaimana lulusan kita bisa berdaya saing. Caranya dimulai dari kurikulum yang kami susun berdasarkan kebutuhan. Bagaimana lulusan harus memiliki kompetensi yang khas, bagaimana inovasi pembelajaran dilakukan, di samping juga meningkatkan sarana, prasarana, dan infrastruktur,” ujarnya.
Bagi Untag Surabaya, pendidikan tidak berhenti pada proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga harus mampu membekali mahasiswa dengan kompetensi yang relevan, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan dunia kerja maupun kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, frasa ketiga yang ditekankan adalah berkontribusi. Mahasiswa dan lulusan dinilai perlu menghadirkan dampak nyata melalui bidang keilmuan yang dimiliki.
“Mahasiswa dan lulusan harus dapat berkontribusi sesuai dengan bidang masing-masing. Inilah menurut saya makna Hari Kebangkitan Nasional dalam konteks pendidikan di Untag Surabaya,” tutup Dr. Harjo.
Hari Kebangkitan Nasional menjadi pengingat bahwa semangat bangkit tetap relevan melalui pendidikan yang inklusif, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kontribusi nyata bagi masyarakat, sebagaimana terus diupayakan Untag Surabaya.
Reporter