Fenomena generasi sandwich menjadi salah satu isu keuangan keluarga yang semakin relevan di tengah meningkatnya biaya hidup. Generasi ini berada di antara dua tanggung jawab besar, yakni membantu kebutuhan orang tua yang menua sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya sendiri.

Berdasarkan infografis Warta 17 Agustus, tekanan finansial generasi sandwich kerap terlihat dari alokasi penghasilan bulanan yang terbagi ke berbagai kebutuhan. Sebagian pendapatan digunakan untuk membantu orang tua, memenuhi kebutuhan hidup harian, membayar cicilan, menyiapkan dana darurat, hingga menyisihkan investasi pribadi. Kondisi ini membuat ruang untuk membangun stabilitas keuangan jangka panjang menjadi terbatas.

Permasalahan tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh individu. Faktor sistemik seperti kurangnya literasi perencanaan pensiun pada masa lalu, kenaikan harga rumah, meningkatnya biaya kesehatan, serta tingginya kebutuhan hidup saat ini ikut memperkuat beban finansial antargenerasi. Karena itu, perencanaan keuangan keluarga perlu dibicarakan secara terbuka dan bijak.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, generasi sandwich perlu menerapkan strategi perlindungan dan pertumbuhan keuangan. Perlindungan dapat dimulai dengan memastikan orang tua memiliki akses jaminan kesehatan, seperti JKN/BPJS Kesehatan, serta menyiapkan dana darurat secara bertahap. Sementara itu, strategi pertumbuhan dapat dilakukan melalui peningkatan literasi investasi dan pemilihan instrumen keuangan yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.

Momen Hari Keluarga Nasional dapat menjadi pengingat penting untuk memulai diskusi keuangan yang sehat dalam keluarga. Membicarakan batas kemampuan finansial bukan berarti mengurangi rasa bakti, melainkan bentuk tanggung jawab agar kesejahteraan keluarga tetap terjaga. Dengan komunikasi terbuka, perencanaan matang, dan kedisiplinan finansial, generasi saat ini berpeluang memutus rantai beban ekonomi dan mewariskan kondisi yang lebih baik bagi generasi berikutnya. (Ivan)