Diskusi mengenai perdamaian dunia dan pemahaman lintas budaya mewarnai Eurasia International Lecture 2026 yang digelar Program Studi (Prodi) Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Untag Surabaya pada Senin (25/5/26). Seminar internasional tersebut menghadirkan akademisi dan praktisi pendidikan dari Jepang dan Indonesia.
Kegiatan yang dihadiri dosen serta mahasiswa Prodi Sastra Jepang Untag Surabaya itu menjadi penutup rangkaian kuliah tamu internasional Eurasia dengan mengangkat tema perdamaian global, sejarah lintas budaya, hingga pendidikan karakter generasi muda melalui tiga sesi materi utama.
Dosen Sastra Jepang Untag Surabaya sekaligus Ketua Penyelenggara kegiatan, Drs. Cuk Yuana, M.Hum., berharap program Eurasia dapat kembali diselenggarakan pada tahun mendatang dengan cakupan pemateri internasional yang lebih luas.
“Saya berharap di tahun depan kita bisa mendapatkan hibah Eurasia International Lecture kembali. Dengan berakhirnya acara ini, berakhir sudah rangkaian perkuliahan tamu dari berbagai negara yang sudah kita adakan. Semoga kita dapat terus menghadirkan pemateri dari berbagai negara,” ujarnya (25/5).
Sesi pertama disampaikan oleh Kaito Kodama dari Osaka Sangyo University yang membahas pandangan masyarakat Jepang mengenai perdamaian serta kontribusi generasi muda dalam menciptakan masyarakat yang damai.
Dalam pemaparannya, Kaito menjelaskan bahwa konflik dan perang dapat muncul akibat benturan budaya sehingga pemahaman lintas budaya menjadi langkah awal dalam membangun perdamaian dunia.
Seminar berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang aktif menyimak materi serta mengajukan pertanyaan kepada para pemateri mengenai isu perdamaian, sejarah, dan pemahaman lintas budaya.
Pada sesi kedua, Dosen Universitas Indonesia, Susy Ong membawakan materi Historical Pathways to Peace: Shaping Young Generations’ Character through Cross-Cultural Understanding. Materi tersebut membahas sejarah pengiriman tenaga kerja Jepang ke luar negeri sejak awal abad ke-20 sebagai bagian dari dinamika sosial dan ekonomi Jepang pada masa itu.
Menurutnya, tantangan utama dalam mengajarkan perdamaian melalui sejarah kepada generasi muda ialah memahami bahwa perang sering kali muncul akibat kondisi ekstrem di masyarakat.
“Perang biasanya terjadi karena kondisi ekstrem seperti goncangan ekonomi atau bencana alam yang membuat masyarakat gelisah dan mendukung gerakan ekstrem,” jelasnya.
Seminar kemudian dilanjutkan dengan sesi ketiga yang disampaikan Genya Ohata, seorang guru sekolah dasar asal Jepang yang telah berada di Indonesia selama 50 hari untuk mempelajari budaya sekaligus mengunjungi sejumlah sekolah. Dalam sesi tersebut, ia membahas pentingnya sejarah dan pendidikan dalam membentuk karakter generasi muda.
“Sejarah harus kita jadikan dalam diri kita, harus selalu kita ingat,” ujarnya saat menjelaskan pentingnya mempelajari sejarah sebagai bagian dari pembentukan karakter generasi muda.
Genya juga menyoroti hubungan sejarah Jepang dan Indonesia serta pentingnya memahami pengalaman sejarah antarnegara untuk membangun pemahaman lintas budaya. Selama berada di Indonesia, ia mengaku banyak belajar mengenai budaya masyarakat Indonesia melalui kunjungan ke sekolah-sekolah dan interaksi langsung dengan siswa maupun guru.
Eurasia International Lecture 2026 menjadi bagian dari upaya Prodi Sastra Jepang Untag Surabaya dalam memperkuat wawasan internasional mahasiswa melalui diskusi lintas budaya dan sejarah global. (Dini)