Bukan Sekadar Capek Burnout Bisa Ganggu Kuliah dan Kesehatan Mental

  • 17 Juli 2026
  • 20

Mahasiswa kerap menghadapi berbagai tuntutan akademik maupun nonakademik yang dapat memicu kelelahan fisik dan mental. Jika berlangsung dalam waktu lama tanpa penanganan yang tepat, kondisi tersebut berisiko berkembang menjadi burnout, yakni kelelahan emosional, mental, dan fisik akibat tekanan yang terus-menerus.


Mengutip CNN Indonesia, burnout tidak hanya ditandai dengan rasa lelah setelah menjalani aktivitas perkuliahan. Kondisi ini juga dapat menurunkan motivasi belajar, mengganggu produktivitas, hingga memengaruhi kesehatan mental apabila tidak segera diatasi.


Salah satu penyebab utama burnout adalah tingginya beban akademik. Tugas kuliah yang menumpuk, jadwal ujian, hingga target pencapaian akademik kerap membuat mahasiswa merasa kewalahan. Tekanan tersebut dapat semakin meningkat ketika harus membagi waktu dengan kegiatan organisasi, magang, atau pekerjaan paruh waktu.


Kurangnya waktu istirahat juga menjadi faktor yang memicu burnout. Kebiasaan begadang untuk menyelesaikan tugas atau belajar menjelang ujian membuat tubuh tidak memiliki waktu pemulihan yang cukup. Akibatnya, konsentrasi menurun, tubuh mudah lelah, dan emosi menjadi lebih sulit dikendalikan.


Selain itu, tekanan sosial serta ekspektasi terhadap diri sendiri turut berkontribusi terhadap munculnya burnout. Tidak sedikit mahasiswa yang membandingkan pencapaiannya dengan orang lain melalui media sosial maupun lingkungan perkuliahan. Perasaan harus selalu berprestasi dan memenuhi harapan tertentu dapat meningkatkan stres apabila tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola emosi.


Untuk mencegah kondisi tersebut, mahasiswa disarankan menerapkan pola hidup yang lebih seimbang. Mengatur jadwal belajar secara realistis, menyediakan waktu untuk beristirahat, menjaga pola tidur, serta tetap melakukan aktivitas yang menyenangkan dapat membantu mengurangi tekanan selama menjalani perkuliahan.


Menjaga kesehatan fisik melalui olahraga ringan dan mengonsumsi makanan bergizi juga berperan penting dalam meningkatkan daya tahan tubuh terhadap stres. Selain itu, mahasiswa tidak perlu ragu berbagi cerita dengan keluarga, teman, maupun dosen pembimbing ketika menghadapi tekanan yang dirasa sulit diatasi sendiri.


Apabila gejala burnout mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti kehilangan motivasi belajar, sulit berkonsentrasi, hingga merasa putus asa dalam waktu yang cukup lama, mencari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor menjadi langkah yang tepat. Penanganan sejak dini dapat membantu mahasiswa mengelola tekanan dengan lebih baik sehingga kesehatan mental tetap terjaga.


Mengenali penyebab dan cara mengatasi burnout menjadi langkah penting agar mahasiswa mampu menjaga keseimbangan antara tuntutan akademik dan kesehatan diri. Dengan kondisi fisik dan mental yang tetap terjaga, proses belajar pun dapat dijalani secara lebih optimal. (Aura)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id