Bambang DH Menggagas Pelestarian Seni Budaya pada Momen HUT ke-81 RI

  • 18 Agustus 2026
  • 19

Ketua Pembina Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, Bambang DH menginisiasi Pagelaran Seni Budaya Reog sebagai bagian dari upaya melestarikan kesenian tradisional. Pagelaran tersebut berlangsung dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Raya Semampir Barat, Perum Pondok Tanjung Permai, Medokan Semampir, Senin (17/8/2026).


Kegiatan yang diselenggarakan warga RT 06/RW 04 itu mendapat dukungan penuh dari Bambang DH Momentum kemerdekaan menjadi kesempatan untuk menghadirkan kesenian tradisional di tengah masyarakat, sekaligus membuka ruang bagi warga untuk menikmati hiburan dan mengenal budaya daerah secara langsung.


Bambang DH menginisiasi pagelaran tersebut karena melihat pentingnya menghadirkan kesenian tradisional di tengah masyarakat, terutama agar generasi muda memiliki kesempatan untuk mengenal dan menyaksikan langsung budaya daerah. Menurutnya, Reog tidak hanya memiliki nilai seni dan hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang perlu terus dijaga keberadaannya.


“Kesempatan seperti ini penting agar generasi muda tidak hanya mengenal Reog melalui televisi atau media sosial, tetapi juga dapat menyaksikan pertunjukannya secara langsung. Kesenian Reog ini bagus karena selain menjadi hiburan, kita juga ikut melestarikan budaya. Selama ini anak-anak mungkin hanya melihat Reog dari televisi atau membaca tentangnya di koran, tetapi belum tentu bisa menyaksikannya secara langsung,” tuturnya (17/8)




Perhatian terhadap generasi muda tersebut juga sejalan dengan nilai pendidikan yang menjadi bagian dari YPTA Surabaya. Pengenalan budaya tidak hanya berlangsung melalui ruang belajar, tetapi juga dapat diperoleh melalui pengalaman langsung di lingkungan masyarakat.


Tidak hanya menampilkan Reog Ponorogo, pagelaran tersebut juga diwarnai tarian dan atraksi Singa Barong yang semakin menarik perhatian penonton. Masyarakat dari berbagai kelompok usia turut menyaksikan pertunjukan, mulai dari orang tua hingga anak-anak dan generasi muda.


Antusiasme warga yang memadati lokasi menunjukkan kesenian tradisional masih memiliki daya tarik ketika dihadirkan secara langsung di lingkungan mereka. Dalam suasana perayaan HUT ke-81 RI, pertunjukan tersebut sekaligus menjadi ruang bersama bagi warga untuk berkumpul dan merayakan kemerdekaan melalui kesenian daerah.


Bagi Bambang DH pelestarian budaya merupakan salah satu cara untuk mengisi kemerdekaan. Karena itu, pagelaran tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan tahun ini. Bambang DH berencana kembali mengadakan pagelaran Reog secara rutin setiap tahun, dengan lokasi yang dapat berpindah dari satu lingkungan RT ke RT lainnya.


“Setiap tahun saya berusaha mengadakan pagelaran Reog seperti ini. Kalau tahun ini dilaksanakan di RT sini, mungkin tahun depan bisa dilaksanakan di RT yang lain,” jelasnya.


Rencana tersebut sekaligus membuka kesempatan bagi lebih banyak masyarakat untuk menikmati pertunjukan dan memberikan ruang bagi kelompok Reog untuk tampil. Kelompok Reog yang disiapkan dalam kegiatan tersebut berjumlah sekitar 60 orang.


Menurut Bambang DH kesempatan tampil menjadi penting bagi kelompok seni agar tetap dapat berkarya dan mempertahankan eksistensinya.


“Kalau tidak ada yang mengundang atau mengadakan pagelaran, mereka tentu tidak memiliki banyak kesempatan untuk tampil dan berkarya,” tegas Bambang DH.


Salah satu warga setempat, Panca, mengaku senang dan menikmati kegiatan tersebut. Menurutnya, pertunjukan Reog dan kesenian yang ditampilkan memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal budaya secara lebih dekat.


“Kegiatan hari ini sangat seru. Anak-anak bisa mengenal budaya secara langsung, bukan hanya dari televisi atau media sosial. Saya berharap kegiatan seperti ini terus diadakan supaya generasi muda semakin mengenal dan mencintai budaya daerahnya,” katanya (17/8).


Apresiasi terhadap inisiatif kebudayaan ini juga disampaikan Ketua RW setempat, Abdul Kholik. Menurutnya, kegiatan kesenian tradisional sebenarnya telah beberapa kali digelar di lingkungan masyarakat, baik dalam lingkup RT maupun RW. Selain Reog, kesenian seperti Jaranan juga pernah ditampilkan dalam kegiatan masyarakat hingga tingkat kelurahan.


Namun, pagelaran kali ini tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan hiburan. Abdul Kholik mengatakan kegiatan tersebut juga diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui keterlibatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar lokasi.


“Selain melestarikan budaya, kami juga ingin menggerakkan UMKM demi meningkatkan kemakmuran masyarakat di sekitar,” ungkapnya.


Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenal budaya secara langsung. Hal ini sejalan dengan nilai pendidikan yang dikembangkan YPTA Surabaya, bahwa pembelajaran juga dapat hadir melalui pengalaman di tengah masyarakat.


Pagelaran Reog dalam rangka HUT ke-81 RI pun tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga budaya sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat. (Dini)


https://untag-sby.ac.id
https://www.untag-sby.ac.id