Banyak masyarakat merasa uang Rp100 ribu kini lebih cepat habis dibanding beberapa tahun lalu. Fenomena itu berkaitan dengan inflasi, yakni kenaikan harga barang dan jasa secara umum yang terjadi terus-menerus sehingga daya beli uang menurun. Nilai nominal tetap sama, tetapi barang yang bisa dibeli menjadi lebih sedikit.

Data inflasi menunjukkan penurunan daya beli terjadi seiring waktu. Berdasarkan ilustrasi pada infografis, nilai Rp100 ribu pada 2014 kini diperkirakan setara sekitar Rp65 ribu-Rp70 ribu dalam daya beli saat ini. Angka tersebut dapat berubah tergantung perhitungan inflasi dan jenis barang yang dibandingkan.

Contoh sederhana terlihat pada harga kebutuhan pokok. Jika dahulu uang belasan ribu rupiah bisa membeli telur dalam jumlah lebih banyak, kini masyarakat harus mengeluarkan dana lebih besar untuk jumlah yang sama. Kenaikan harga pangan menjadi salah satu faktor yang paling mudah dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Secara umum, inflasi dipengaruhi tiga faktor utama. Pertama, permintaan tinggi saat barang terbatas (demand-pull inflation). Kedua, biaya produksi naik seperti BBM, listrik, atau bahan baku (cost-push inflation). Ketiga, jumlah uang beredar bertambah terlalu cepat sehingga nilai uang cenderung menurun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah mengingatkan, “Inflasi itu seperti pencuri di malam hari. Ia tidak mengambil uang dari dompetmu, tapi mengambil nilai dari uang yang kamu simpan.” Karena itu, masyarakat perlu mengelola keuangan dengan bijak, menabung secara disiplin, serta menempatkan dana pada instrumen investasi yang sesuai profil risiko agar nilai aset tetap terjaga. (Ivan)